Alat Transportasi


Ini adalah cerita saya bersama kendaraan-kendaraan macam bisikal (sepeda), motosikal (motor), kereta (mobil), bas (bis), tren (kereta api), kapal, pesawat. Sebenarnya masih ada juga cerita tentang gerobak, becak, dan andong. Tapi ntar kepanjangan… cukup 7 alat transportasi saja yang akan saya ceritakan ^_^
Kisah seru bersama kendaraan2 itu…

SEPEDA

Sepeda pertamaku, BMX hitam yang menyejarah. Entah kini di mana sepeda itu. Sudah berpindah tangan dari adik sepupu hingga tak berbekas, perpindah dari tangan ke tangan yang lain.
Dulu di masa SD-ku, hampir setiap sore, aku dan bulik (sepupu Bapak yang paling kecil, kebetulan kami hampir seumuran) selalu bersepeda berdua keliling desa. Banyak kejadian menarik antara kami dan sepeda.
Suatu sore, kami berboncengan bersama, sepeda itu patah, di ujung jalan desa. Dengan sok bijak aku mengatakan pada bulikku,
“Bulik, Uzi pulang duluan aja ya jalan kaki, nanti biar Bapak kesini ngambil sepedanya. Bulik nunggu di sini.”
Aku benar2 ketawa mengingatnya. Aku sok bijak, dengan tenang tanpa merasa bersalah aku mengatakannya. Mau mencurangi bulik.
Bulikku sontak menolak, “Ga mau. Kita bawa aja berdua pulang ke rumah.”
Hehe.. Alhasil kami berdua menggotong sepeda itu. Kami dengan malu-malu melewati jalan perkampungan yang banyak orang. Kami pun mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang kami lewati. Mengingatnya lucu banget. Dua anak kecil bawa sepeda patah, sambil malu-malu. Sampai di rumah. Kita langsung diketawain. Teganya…
Pernah juga kami berdua berboncengan mencoba jalan baru yang belum pernah kami lewati sebelumnya, di desa seberang, kami dikejar anjing yang jumlahnya hampir belasan.
Lucunya aku saat itu, aku teriak-teriak “Allahu Akbar…Allahu Akbar…!!!” kayak mau perang. ^_^
Bayangkan saja naik sepeda itu ibarat naik kuda, trus kejar2an sama musuh. Sambil teriak2 takbir! Sampai di rumah ngos-ngosan luar biasa. Lagi-lagi diketawain…
Satu lagi, suatu sore, aku dan bulikku bersepeda sampai rumah pamanku, cukup jauh dari rumah kami. Terhitung jauh malah. Berkilo-kilo dan harus melewati area persawahan tanpa pemukiman. Sudah diwanti-wanti sama ibu untuk tidak jauh-jauh karena langit mendung. Tapi kami berdua nekat. Kami masing-masing membawa sepeda sendiri-sendiri.
Pulangnya, hujan turun dengan sangat lebat. Disertai dengan kilat dan petir. Kami harus melewati jalan panjang yang sangat sepi. Sepanjang jalan kami berdua menangis. Ketakutan karena petir dan kilat menyambar terus-terusan. Suara tangis kami pun tak terdengar oleh siapapun kalah oleh suara hujan.
Kami berdua saling menjaga. Tak boleh berjarak. Bahkan memilih untuk bersampingan. Sekalinya bulik agak cepat, aku langsung teriak untuk memperlambat laju sepedanya. Kami berdo’a berdua, serta membaca surat-surat pendek yang kami hafal. Kami membaca surat-surat pendek itu sembari menangis dan teriak-teriak.
Hingga tiba di rumah, kami berdua masih menangis. Kedinginan. Menggigil. Kami disambut oleh muka-muka penuh kekhawatiran….
Aku sangat merasa bersalah telah membuat ibu cemas.
-SD, bulik, sepeda-. Ketiganya menjadi kenangan tersendiri.
Pelajaran dari sepeda :

    1. kalo Rasulullah mengatakan ajari anakmu berkuda, menembak dan berenang…untuk yang berkuda itu lebih tepatnya adalah bersepeda untuk saat itu. Susah mau melihara sepeda. Kenapa kuda = sepeda? Karena butuh tenaga menjalankannya, butuh latihan keseimbangan, dan yang pasti menyehatkan….
    2. menurut sama orang tua, kalo dibilang jangan jauh2 ya jangan jauh2… yang ini ga boleh disepelekan, serem banget tuh hujan deras disertai petir dan kilat, di jalan persawahan yang lapang…ga ada penangkal petirnya… udah gitu ga pake jas hujan…jangan coba-coba!
    3. berani mencoba hal2 yang baru…termasuk jalan2 baru. Gpp kalo harus dikejar anjing. Itu memacu untuk lebih kuat mengayuh sepeda…makin sehat deh…

MOTOR
Adiknya Valentino Rossi. Itu pernah menjadi julukanku saat SMA. Kalo ingat masa itu, aku juga heran. Belum ngerti dzikrul maut kali ya. Biasa nyalip antara bis dan truck besar dengan kecepatan tinggi. Parah. Serem. Kayak ga inget mati aja. Sekarang mah, udah ga berani. Yang ada kalau di jalan, dzikrul maut terus. Pernah kecelakaan naik motor? Pernah lah… tiga kali (semoga hanya tiga kali ini saja). Itupun bukan karena aku yang salah. Alhamdulillah, mereka yang kutabrak maupun yang menabrak mengakuinya, bahwa mereka yang salah. Dua kali masuk UGD. Alhamdulillah ga parah. Cuma lecet2 dan memar biasa. Alhamdulillah…mereka yang menabrakku orang baik. Pernah juga aku sampai sangat kasian sama yang menabrakku. Aku dah bilang damai. Masnya dah bawa aku ke RS dan servisin motorku. Tetep aja masnya dibawa sama polisi. Kasihan. Masnya pasti diminta ngeluarin isi dompet tuh… (Maaf ya mas, ga bisa bantu. Saya milih segera pulang aja. Maaf pak polisi, saya su’udzon ni)
Pelajaran :

    1. meski ngebut, tapi hati2. Buktinya, teman2 dari dulu merasa aman bonceng aku. Aman dan nyaman kata mereka, itu kunci rahasianya, ya karena hati-hati… (hehe…)
    2. Peralatan lengkap (helm dan surat2). Pastikan kondisi motor bagus.
    3. Jangan melamun, jangan ngantuk… mending buat muroja’ah. Tapi hati2 kadang karena ga konsen hafalannya malah jadi muter2 sendiri. Ini ga bagus. Tetap konsentrasi.
    4. Jangan lupa cek indikator bahan bakar. Isi sebelum kehabisan. Yang ini kelemahanku ni, kadang Pede aja yakin masih cukup padahal jarumnya dah di E, alhasil ndorong deh…
    5. dll

MOBIL
Pelajaran pertama, jangan tertawa di dalam mobil. Kalo direm mendadak, kejedot, maka gigi anda akan rawan patah. Hehe… ini pengalaman pribadi.
Dulu, pas masih SD, asyik becanda di dalam mobil trus ketawa. Bapakku tiba-tiba aja ngerem mendadak. Aku lupa kenapa dulu tiba2 Bapak ngerem, yang pasti aku langsung sibuk mengamati gigiku yang kejedot dashboard mobil. Ternyata gigiku patah. Hiks…
Ketawa boleh, tapi jangan lupa seatbelt-nya dipake ya…
Kedua, jangan maksa latian nyetir mobil kalo ga diizinin sama yang punya mobil. Ini pengalaman pribadi juga. Pas SMA, kakakku minta latihan nyetir mobil ke Bapak. Bapak tidak mengizinkan. Kakakku ngeyel banget. Akhirnya, kakakku meminta omku buat ngajarin. Pake mobil siapa? Tetep pake mobil Bapak. Omku mah asyik-asyik aja. Aku lupa jadinya gimana, yang pasti akhirnya dimarahi sama Bapak. Pas itu aku masih kelas 6 SD, tapi aku juga ikut-ikutan minta diajarin nyetir mobil. Aneh-aneh aja…
Pelajaran ketiga, segera latihan nyetir mobil. Biar ga tergantung orang lain. Bayangin aja, pas itu ada acara sama temen2, ada mobil nganggur, ga ada yang bisa nyetir. Padahal motor kami kurang. Gregetan banget! Akhirnya kami semua harus terlambat karena nyari pinjeman motor dulu. Harus bisa nyetir! Kapan ya? Giliran udah semangat latihan nyetir, sekarang mobil Bapak udah dijual. He2..
BIS
Ada pengalaman lucu pas aku nanya ke salah satu etoser,
“naik apa ke sini dek?”
“naik mobil mba”
Aneh. Dari asrama ikhwan ke asrama akhwat naik mobil. Aku pun bertanya lagi, “mobil siapa?”
“jalur 15 mba”
Ketawa aku dibuatnya…
Itu mah bis kopaja, bukan mobil. Tapi sejak itu aku tertarik untuk menyebut naik bis dengan mengatakan naik mobil besar, ditambahin…”yang kursinya buanyaaak banget….” hehe.. :D
Dulu, hampir sepekan sekali aku naik bis dari Magelang ke Solo. Selalu, sepanjang perjalanan, aku akan sangat cerewet menanyakan apapun yang kulihat pada Bapak dan Ummi. Dengan sabar, mereka akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku itu.

KERETA API

Pelajaran naik kereta api :

    1. Jangan sampe kehabisan tiket atau ketinggalan kereta. Jika itu terjadi, anda harus menunggu kereta lain. Atau bahkan gagal bepergian. Aku punya pengalaman juga ni. Mendadak, esok harinya harus ngadep dosen. Posisi sedang di luar kota. Langsung saja menuju stasiun yang saat itu harus ditempuh lebih dari satu jam dengan angkutan umum. Sesampainya di stasiun Cirebon sekitar isya, tiket kereta jam8 habis. Adanya jam 10 malam. Tiga jam nunggu di stasiun. Udah gitu orang-orang berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Baca buku, tapi pencahayaan ga bagus. Cari temen ngobrol ah… dapet! Ibu-ibu yang mau ke Jogja juga. Malah jadi ngobrol banyak. Belajar dari sang ibu itu… menyenangkan. Kalo harus nunggu kereta di stasiun karena kehabisan tiket, carilah ibu-ibu yang bisa diajak ngobrol sambil nuggu kereta. Susun target buat rabthul ‘am (maksa.com).
    2. Pengalaman naik keretaku banyak. Ada yang menyenangkan ada yang engga. Pernah aku nangis di kereta (untung ga ada orang di sebelahku), trus kukeluarkan pensil dan buku kecilku…jadilah puisi! He2…
    3. Kereta ekonomi : gali hikmah sebanyak2nya. Banyak pelajaran hidup yang dapat diambil dari kehidupan di dalam kereta ekonomi. Bener-bener!!! Tapi buat akhwat, sangat tidak direkomendasikan naik kereta ekonomi sendirian.
    4. Kereta bisnis : kalo mau lebih cepet dikit dari kereta ekonomi, tapi berat merogoh kantong lebih banyak buat naik ekskutif, ini jadi alternatif solusi. Kondisi ga jauh beda dengan ekonomi, tapi paling tidak, kita ga perlu menggelar koran dan ga perlu berdesak-desakan… lumayan lengang.
    5. Kereta eksekutif : bisa tetap produktif. Bisa disambi ngerjain tugas, baca buku, dan cepet nyampenya. Mau istirahat juga bisa. Terserah mau ngapain aja. Tapi ya ono rego ono rupo.
    6. KRL : no comment. Hindari jam2 sibuk aja. Kalo jam sibuk, liat aja di koran2 dan TV. Siap2 aja kegencet, kecuali ambil yang ekspress (tapi ga terlalu menjamin juga). Kualitas di Indonesia emang kayak gini.

KAPAL LAUT
a. Jangan lupa minum antimo bagi yang suka mabuk. Ini lebih memabukkan dibanding kendaraan darat.
b. Dikuatkan konsentrasinya, ini kalo pas sholat, harus benar2 lebih konsentrasi. Biar bisa khusyuk. Gimana engga, sholat di tengah gelombang.
Meskipun aku baru naik kapal feri aja, tapi bisa kebayang dikit deh kalo naik kapal laut yang sampe berhari2.
c. Keluarlah menikmati pemandangan, bisa melihat ikan lumba-lumba berlompatan. Kata orang2 si lumba-lumba… ^_^

PESAWAT TERBANG

Yang lebih menarik dan berkesan buatku justru bukan saat pertama kali, bukan pula yang kedua. Ya, entah yang ke berapa. Seru soalnya, apa karena pas itu naiknya garuda ya? Hehe… ga ada hubungannya.
Sampe di bandara, langsung disambut muka seram seorang teman. Karena tiket ada di aku dan ternyata aku sedikit terlambat dari kesepakatan.
Masih dengan tampang seram,
“Adikmu mana?”
Sebut saja ia MH. Yang dia maksud dengan adikku adalah DD.
Ya, sering DD dibilang adikku.
“Belum dateng. Bentar, ta telpon dulu.”
Tut..tut…ga diangkat. Setelah dicoba berulang kali, akhirnya…
“baru mau berangkat mb. Bentar.”
Aku : “baru mau berangkat Pak. Tunggu bentar.”
MH : “What???? Baru mau berangkat? Dia kira kita naik angkot, bisa minta ditungguin.”
Masih bermuka seram, “Ya udah, kita cek ini duluan aja.”
Eh, pas DD dateng, MH langsung aja ngomelin si DD.
“udah dibilangin jangan telat. Ini bukan naik angkot, nduk. Tuh, dah mepet banget.”
Aku bener ketawa ngeliatin mereka berdua, kayak bapak dan anak. DD juga cuma cengar cengir aja.
Dan yang bikin makin gregetan, berkas yang harusnya dibawa, jatuh di jalan. Saking buru-burunya. Nyadar-nyadar dah sampe bandara.
“Trus gimana Pak?” tanya DD pada MH, dengan agak takut tapi tetep aja innocent.
“Udah…udah…udah jam segini. Itu dipikir ntar.”
Akhirnya, aku dan MH kompak ngerjain si DD kali itu. Lucu banget dah! Kita tahu, DD takut ketinggian. Walah2… dia tercekat ketakutan pas pesawat mulai terbang, takut si, tapi dia ketawa2 gitu. Jadinya aneh. Sampe heboh. Aku dan MH khawatir juga ganggu penumpang lain. Tapi benar2 seru selama terbang. DD ada aja tingkahnya buat ngusir phobia-nya.
Pelajaran:

    a. Jangan sampe telat, cek in-nya jangan mepet, coz pasti pake acara deg2an dan buru2. Nah, buru2 itu kan ga bagus, temen syetan. Hayo… apalagi ada yang ketinggalan atau ada yang jatuh. Parah kan?
    Dan lagi, kalo telat, bikin temen2 yang lain jadi bermuka serem. ^_^ bikin mangkel. He…
    b. Kalo takut ketinggian, mending senyam senyum dan ketawa2 aja, jadinya malah ga kerasa tu takutnya. Senengnya lagi, bisa dikerjain sama yang lain.

tulisan ringan, semoga bermanfaat

5 thoughts on “Alat Transportasi

  1. mbak….aku tahu lho etoser yang suka naik mobil besar dengan jumlah kursi yang buanyaaak banget, hehe…alias bis… temenku kan? namanya… TTA…

  2. aku tahu MH dan DD. tahu ga si mbak, kita nyariin berkasnya sampe malem2, paginya masih nyariin juga. eh…kitanya diomelin sama polisi… kata pak polisi, “Ga ada softfilenya ya mbak? segitunya nyariin dokumen jatuh di jalan.”
    jawaban kami : “Nota-nota e pak…”
    tu kan mbak, kitanya jadi korban juga. emang ga boleh buru2… he2, padahal aku masih suka buru2 juga :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s