Semangat di Bulan Syawal


Ada gelora semangat di hati Aisha, “Tahun depan aku akan menjadi orang yang lebih baik dari tahun lalu.”
Semangat itu berkobar di awal-awal bulan Syawal. Di sisi lain, ada kekhawatiran yang muncul, Aisha khawatir api semangat itu memudar termakan waktu.
Kekhawatiran ini beralasan karena tekadnya ini telah ia canangkan berkali-kali semenjak tahun-tahun lalu, namun selalu menguap di tengah jalan. Ia kembali sibuk dengan rutinitasnya, tanpa pernah mengevaluasi sejauh mana ia telah berubah menjadi lebih baik. Bersyukur, Aisha tak pernah berputus asa. Meski tahun sebelumnya gagal, ia tetap memperbarui tekadnya itu setiap akhir ramadhan, sembari terus memanjatkan do’a.
Apa yang dialami Aisha sangat mungkin dialami pula oleh orang lain. Pada dasarnya apa yang ada pada manusia tidak ada yang stabil. Iman bertambah dan berkurang, naik dan turun, rasa cinta bisa berubah menjadi benci, amarah bisa menjadi sayang. Begitu pula semangat, naik dan turun sejalan dengan waktu.

Kira-kira apa penyebab memudarnya semangat memperbaiki diri???
Kalo pake kuadran, bisa digolongkan menjadi 4 kuadran. Kuadran 1, dari diri sendiri dan disadari. Kuadran 2, dari diri sendiri tapi tak disadari. Kuadran 3, dari luar dan disadari. Kuadran 4, dari luar dan tak disadari.
Kuadran 1 : dari diri sendiri dan disadari.
Contohnya adalah adanya perang batin, saat dihadapkan pada pilihan-pilihan; melaksanakan hal2 yang dicanangkan di akhir Ramadhan, atau melaksanakan apa yang dirasa harus dilaksanakan saat ini meski tidak direncanakan sebelumnya. Nah, apabila kita memilih aktivitas yang kedua, artinya apa yang dicanangkan akhir ramadhan/awal Syawal dianggap tidak lagi menjadi prioritas saat itu. Bila konflik batin ini berulang kali terjadi dan selalu aktivitas kedua yang dimenangkan, maka akan sangat mungkin secara perlahan semangat memperbaiki diri pun akan memudar. Dalam hal ini, kita perlu membuat target yang disertai dengan langkah-langkah dalam pencapaian target2 tersebut agar semangat ini tetap terjaga, dan mengevaluasinya.
Kuadran 2 : dari diri sendiri dan tidak disadari.
Misalnya ini adalah karena keterbatasan daya ingat manusia. Apa yang dipikirkan akan dilupakan dalam jangka waktu tertentu, meski ia berusaha untuk mengingat-ingatnya. Secara alamiah ada yang dinamakan pelapukan ingatan dari waktu ke waktu. Dalam memelihara semangat perbaikan diri, kita harus melawan pelapukan ingatan dengan mencanangkan kembali gagasan perbaikan secara berkala.
Kuadran 3 : dari luar (lingkungan) dan disadari.
Kuadran 4 : dari luar (lingkungan) dan tak disadari.

Pada dua kuadran ini, kadang cukup sulit untuk dibedakan. Hal ini karena pada dasarnya setiap orang selalu memutuskan secara sadar apakah akan menerima atau menolak pengaruh lingkungan. Karena jika seseorang menerima dalam tidak sadar, berarti ia telah terhipnotis. Yang ada adalah ia terbawa oleh lingkungan. Apabila ia berada di lingkungan yang tidak mendukung perbaikan dirinya, dan ia tidak membuat pencegahan-pencegahan agar tak terbawa, maka akan sangat rentan semangat perbaikan dirinya untuk tetap bertahan.
Untuk kuadran 3, sangat mungkin pula terjadi adanya pergeseran prinsip akibat adopsi lingkungan. Dengan sadar, seseorang bisa juga mengubah prinsip hidupnya, sehingga semangat perbaikan diri itu berubah. Ini adalah akibat benturan-benturan pemikiran pribadi dengan lingkungan.
Memelihara jati diri dan hidup dalam prinsip merupakan kata kunci untuk mengantisipasi pengaruh lingkungan yang menggerogoti semangat perbaikan diri. Jati diri adalah pandangan seseorang tentang siapa sebenarnya dirinya dan ingin menjadi apa di kemudian hari, sedang prinsip menyangkut hal-hal yang ingin dicapai dan bagaimana cara yang diyakini untuk mencapai itu semua.
Dan akhir dari semuanya adalah tentang orientasi… ingin menjadi seperti apa hidupnya kelak, di kampung halaman terindah kita nanti. Kondisi seperti apakah yang diinginkan saat malaikat maut menjemput kita nanti. Orientasi hidup, menjadi hal pokok yang setiap manusia bebas memilih…
Syawal ini, semoga azzamku tuk menjadi manusia baru tetap terjaga hingga bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan, dan semakin semangat lagi dari tahun ke tahun…
Menjadi manusia yang terlahir kembali, fithri… suci…
Ampuni segala dosa dan khilafku selama ini ya Rabb, terimalah amalanku yang belum seberapa ini ya Rabb. Hiasilah hatiku dengan kecintaan padaMu… Rabb, terima kasih atas segala yang Engkau berikan padaku…

2 thoughts on “Semangat di Bulan Syawal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s