kiamat kecil yang jauh belum seberapa

    “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),

    dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya….”
    (QS.Al Zalzalah : 1 – 2)

Ya Rabb, guncangan itu datang dengan seketika
Membangunkan tidurku yang baru beberapa saat
Tubuhku merasakan dengan sangat sebuah getaran hebat yang tak kunjung berhenti
Gelegar itu jelas terdengar
Mata dan telingaku terjaga
Jantung berdegup kencang
Tak lama dari gemuruh pertama,
Suara kendaraan melintas jalan depan rumah mulai terdengar
Arus pengungsi

  • Ya Rabb, ku tahu ini belum seberapa dengan hari akhir nanti
    Namun sungguh, malam itu terasa sangat mencekam
    Suara gemuruh erupsi merapi terdengar sangat jelas
    Gempa vulkanik menggetarkan bumi dengan sangat terasa
    Suara gemuruh diiringi suara kaca-kaca rumah yang bergetar
    Membuatku semakin merapatkan diri padaMU
  • Continue reading

    Advertisements

    my beloved…

    just wanna say… “I Love you, ummi and Bapak”

    Mereka menginginkanku menjadi da’i, di atas segala yang kulakukan!

    selalu kuingat pesan Bapak di ‘iedul fitri setahun silam…
    ketika kucium tangannya dan aku sungkem padanya
    ketika air mata ini mengalir, di ruangan yang saat itu hanya ada aku dan Bapak saja
    ia memelukku erat
    ia mengusap lembut kepalaku
    ia mengucap banyak kalimat yang semakin membuat air mata ini terus mengucur deras,
    hanya satu yang ingin kubagi, kalimat Bapak “ndak apa2 belum lulus, Bapak tahu waktumu untuk dakwah, bukan untuk yang lain-lain… tetap istiqomah ya, tetap di barisan terdepan”
    kini, ‘iedul fitri 1430 H telah lewat setahun lebih
    dan ternyata belum juga aku bisa membawakan undangan wisuda untuk kedua orang tuaku
    Bapak, kini ku sedang berjuang untuk menyelesaikan tugas akhirku di antara tugas-tugas dakwahku yang lain. jika kemarin2 lulus belum menjadi prioritas. kini, itu telah menjadi prioritas untukku. karena ku harus segera melanjutkan dakwahku ke ranah yang lain. semoga Allah memberi kekuatan untuk melewati ujian2 yang diberikanNYA dalam ikhtiarku ini.
    kini, tak jarang guyonan dilontarkan Bapak padaku masih dengan senyumnya yang ringan, “dulu pas masuk Ekonomi katanya mau lulus 3,5 tahun?” ia tidak pernah memarahiku, karena Bapak tahu apa2 yang kulakukan. meski beliau faham itu, beliau tetap mengingatkanku pada kewajibanku yang satu itu.
    Bapak, terima kasih atas semuanya, janji lima tahun yang lalu itu masih terus kujaga…

    ummi…
    masih ingat saat mendadak aku harus berangkat ke Lampung, menghadiri Munas FSLDK. mendadak karena rencana awal aku tak berangkat. semalam sebelum berangkat kupastikan untuk pulang ke rumah, meminta izin ummi dan Bapak. awalnya berat, karena saat itu tidak ada persiapan dan di Lampung cukup lama, dua pekan, dan harus bolos kuliah SP (ini menyebabkan aku tak dapat ikut ujian dua mata kuliah). namun, ummi dengan tatapan teduhnya hanya mengatakan, “selamat berjihad ya, nak. ummi tahu, engkau berangkat ke Lampung untuk berjihad”
    sungguh, saat itu bergetar aku mendengarnya. sungguh tak biasa ummi berkomentar sependek ini dan sedalam ini…

    mereka sumber inspirasiku, memberi pejaran berharga dari hari ke hari...

    Akan kupersembahkan skripsiku ini (yang tengah teronggok di sebuah folder di laptopku tak tersentuh hampir selama satu bulan ini, karena beberapa saat kutinggalkan untuk menjadi relawan di posko merapi, dan kini dilanjutkan menjadi sekretaris di Tim Program -RR- Merapi DPW PKS DIY) untuk ummi…untuk ummi… untuk ummi… dan untuk Bapak… di sela2 aktivitasku itu semua, aku akan tetap segera menyelesaikannya ^_^
    Ummi, Bapak, nahnu du’at qabla kulli syai’in…
    terima kasih atas segalanya, selama ini
    Continue reading

    Debu-debu Merapi

    abu di depan rumah

    abu di rumahku setelah sedikit disapa hujan. menyisakan sedikit bekas tempaan tetes air

    Hujan abu yang turun beberapa hari ini, ditambah dengan hujan pasir dan terkadang hujan lumpur, membuat seluruh wilayah tempat tinggalku diselimuti dengan abu dan pasir. Tebal. Pekat. Pohon-pohon pun hampir semua tak bertahan untuk berdiri tegak. Mereka tumbang di sana sini. Rubuh ke tanah dengan bunyi yang tak jarang membuat kaget kami yang mendengarnya.

    Setiap ada kendaraan lewat depan rumah, maka akan meninggalkan kepulan debu yang membumbung seperti badai debu. Ini terjadi setiap hari. Debu-debu itu selalu mencari celah untuk menerobos masuk ke setiap jengkal rumah kecilku.

    Setiap sedikit saja keluar rumah, maka itu mampu membuat wajah ini berdebu dan menjadi sangat kotor. Perjalanan keluar rumah seperti megumpulkan abu di baju-baju yang dikenakan. Keluar rumah dengan berjalan kaki dan terkadang dengan qashwah, si kuda besiku, selalu dengan cepat membuat tubuh ini kotor.

    Debu dari muntahan abu merapi yang dihempas angin, belum ditambah asap knalpot yang tak ramah menempel di wajah dan tubuh ini. Sehingga mau tak mau aku langsung membasuh wajah setiap tiba di rumah.Masker yang dipakaipun tak membuat debu itu enggan menempel di wajahku. Dahi dan sekitar mata pun menjadi sasaran empuk debu-debu itu untuk hinggap.

    Sangat tidak nyaman beraktivitas dengan wajah penuh debu. Oleh sebab itu, setiap tiba di rumah, aku selalu membasuh wajah, namun akan terasa kotor lagi setelah keluar rumah. Maka, wajah pun harus dibasuh lagi sebelum melanjutkan aktivitas kembali. Begitu terus yang kulakukan, namun tetap saja, debu-debu itu dengan cepat akan melekat kembali di wajah.

    Dan tidak jarang, setelah beraktivitas penuh di luar rumah, kami memilih langsung mandi sesampainya di rumah karena saking kotornya.

    Begitulah kini, sangat merasa tidak nyaman dengan debu-debu yang selalu menempel di wajah dan badan kita. Jaket pun menjadi sangat mudah kotor, bahkan dengan mudah berubah warna, menjadi abu-abu karena debu abu merapi. Kini, rasanya ingin terus membasuh wajah, agar bersih.

    Dalam tafakkurku, dengan ketidaknyamanan yang membuat harus selalu membersihkan wajah dan tubuh ini dari debu-debu yang beterbangan ini, bagaimanakah dengan debu-debu dalam hati kita?

    Sudah semestinya, perasaan yang tidak nyaman ini muncul pula berkenaan dengan debu dan kotoran lain, yang memang mata kita tak dapat melihatnya.

    Debu-debu yang menempel dalam hati kita, akankah selalu kita basuh pula sebagaimana kita membasuh wajah kita yang berdebu?

    Ya Rabb, bisa jadi saat ini tidak hanya debu yang menodai hati ini, lebih dari itu, kotoran yang jauh lebih pekat. Namun, kadang diri ini tidak peka untuk segera membasuh hati ini dengan dzikr dan taubat padaMU. Ya Rabb, ampuni kami selama ini…

    Astaghfirullahal’adhim…

    merindukan matahari

    “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (Ar Rahmaan : 55)
    Satu pekan lebih ku tak menemuinya. Pagi, siang, sore, kami diliputin oleh gelap. Gelap ini disinyalir adalah karena hujan,baik hujan abu, hujan air, hujan pasir, maupun hujan lumpur. Lebih dari satu pekan kami menjalani hari seperti ini.bahkan terkadang jam 14 siang, suasana yang kami rasakan seperti sore menjelang maghrib.
    Hingga suatu pagi, tanggal 11 November 2010, aku merasakan pagi yang berbeda. Kumelihat secercah cahaya matahari menerobos masuk ke pekarangan rumah. Aku pun bersorak bersyukur, dan mulai mengeluarkan tumpukan jemuran yang selalu menunggu sang surya itu menyapa. Namun, ternyata beberapa saat setelah itu matahari cepat-cepat menyingkir. Pergi. Dan hujan abu pun turun dengan cukup deras.lagi-lagi, kami kehilangan matahari.

    matahari

    mentari yang kurindukan

    Matahari menjadi sesuatu yang sangat dinantikan bagi kami.dan ini menyadarkan kita, ternyata satu pecan tanpa matahari, kita akan mendapatkan berbagai macam kesulitan. Salah satunya, kehabisan baju bersih ^_^.
    Intinya, hanya ingin menyampaikan bahwa matahari adalah nikmat Allah yang mungkin selama ini kita lupa untuk mensyukurinya. Alhamdulillah, kini matahari sesekali menyapa kami. Meski terkadang ia tak bisa menemani kami sepanjang hari..

    Dalam sepenuh syukur atas segala nikmatNYA,
    14 November 2010

    merapi dan matahari

    mentari pertama yang muncul. nampak semburan merapi ke arah wilayah desaku. tak lama dari foto ini diambil, mentari kembali tertutup oleh abu2 merapi...