Debu-debu Merapi


abu di depan rumah

abu di rumahku setelah sedikit disapa hujan. menyisakan sedikit bekas tempaan tetes air

Hujan abu yang turun beberapa hari ini, ditambah dengan hujan pasir dan terkadang hujan lumpur, membuat seluruh wilayah tempat tinggalku diselimuti dengan abu dan pasir. Tebal. Pekat. Pohon-pohon pun hampir semua tak bertahan untuk berdiri tegak. Mereka tumbang di sana sini. Rubuh ke tanah dengan bunyi yang tak jarang membuat kaget kami yang mendengarnya.

Setiap ada kendaraan lewat depan rumah, maka akan meninggalkan kepulan debu yang membumbung seperti badai debu. Ini terjadi setiap hari. Debu-debu itu selalu mencari celah untuk menerobos masuk ke setiap jengkal rumah kecilku.

Setiap sedikit saja keluar rumah, maka itu mampu membuat wajah ini berdebu dan menjadi sangat kotor. Perjalanan keluar rumah seperti megumpulkan abu di baju-baju yang dikenakan. Keluar rumah dengan berjalan kaki dan terkadang dengan qashwah, si kuda besiku, selalu dengan cepat membuat tubuh ini kotor.

Debu dari muntahan abu merapi yang dihempas angin, belum ditambah asap knalpot yang tak ramah menempel di wajah dan tubuh ini. Sehingga mau tak mau aku langsung membasuh wajah setiap tiba di rumah.Masker yang dipakaipun tak membuat debu itu enggan menempel di wajahku. Dahi dan sekitar mata pun menjadi sasaran empuk debu-debu itu untuk hinggap.

Sangat tidak nyaman beraktivitas dengan wajah penuh debu. Oleh sebab itu, setiap tiba di rumah, aku selalu membasuh wajah, namun akan terasa kotor lagi setelah keluar rumah. Maka, wajah pun harus dibasuh lagi sebelum melanjutkan aktivitas kembali. Begitu terus yang kulakukan, namun tetap saja, debu-debu itu dengan cepat akan melekat kembali di wajah.

Dan tidak jarang, setelah beraktivitas penuh di luar rumah, kami memilih langsung mandi sesampainya di rumah karena saking kotornya.

Begitulah kini, sangat merasa tidak nyaman dengan debu-debu yang selalu menempel di wajah dan badan kita. Jaket pun menjadi sangat mudah kotor, bahkan dengan mudah berubah warna, menjadi abu-abu karena debu abu merapi. Kini, rasanya ingin terus membasuh wajah, agar bersih.

Dalam tafakkurku, dengan ketidaknyamanan yang membuat harus selalu membersihkan wajah dan tubuh ini dari debu-debu yang beterbangan ini, bagaimanakah dengan debu-debu dalam hati kita?

Sudah semestinya, perasaan yang tidak nyaman ini muncul pula berkenaan dengan debu dan kotoran lain, yang memang mata kita tak dapat melihatnya.

Debu-debu yang menempel dalam hati kita, akankah selalu kita basuh pula sebagaimana kita membasuh wajah kita yang berdebu?

Ya Rabb, bisa jadi saat ini tidak hanya debu yang menodai hati ini, lebih dari itu, kotoran yang jauh lebih pekat. Namun, kadang diri ini tidak peka untuk segera membasuh hati ini dengan dzikr dan taubat padaMU. Ya Rabb, ampuni kami selama ini…

Astaghfirullahal’adhim…

Advertisements

2 thoughts on “Debu-debu Merapi

Comments are closed.