mencari cahaya


cahaya penerang

Sekitar 15 hari tanpa cahaya. Desaku seperti desa mati. tak ada matahari maupun listrik.

Dalam suasana seperti ini… tiba-tiba ingat, kata “mencari cahaya” pernah sangat akrab dalam perbincangan-perbincanganku dengan teman-teman ketika ku masih duduk di bangku SMA. Kusebut masa itu sebagai masa-masa pencarian jati diri. Ingat sekali ketika guru matematikaku bercerita, ia berkisah tentang seorang kakak kelasku yang kebetulan satu aktivitas denganku. Suatu ketika ia tak masuk kelas selama beberapa hari, kebetulan guru matematikaku itu wali kelasnya, bertanya pada kakak kelasku ini, “kemana aja kok ga masuk sekolah?” Dengan enthengnya kakak kelas kami itu menjawab, “mencari cahaya, Bu.” Ya, aku ingat betul bahwa saat itu sanggar sedang sangat keruh dan gelap. (note;sanggar: sekre pramuka) dan ia sebagai komandan mencoba mencari cahaya di luar. Setelah itu, kata “mencari cahaya” menjadi bahasan yang sangat menarik untuk didiskusikan. Untuk menjalani kehidupan ini, kita selalu mebutuhkan cahaya…
“mencari cahaya” menjadi kata-kata yang memang sangat bermakna. Dalam menyusuri perjalanan hidup kita ini, cahaya adalah sesuatu yang hukumnya harus ada. karena dalam kegelapan bisa jadi kita akan salah mengambil jalan, terjatuh, menabrak, dan sebagainya.
Kali ini, saat sepekan lebih aku tak menemukan matahari di siang hari, dan begitu pula dengan malam hari yang tanpa listrik. Semuanya gelap. Gelap. Hitam. Pekat. Mencekam. Itu gelap dalam kasat mata. Lalu bagaimana dengan hati yang gelap??? Na’udzubillahimindzalik…
Ya, beberapa saat kami hidup tanpa cahaya. Siang pun tak pernah bertemu dengan sang mentari. Malam tak ada penerangan listrik. Alhamdulillah lampu minyak tanah sedikit membantu kami untuk tetap bisa beraktivitas di malam hari.
Kepekatan malam-malamku kini mengantarkan aku untuk terus mencari cahaya… aku ingin segera mengakhiri gelap di sini. Alhamdulillah, seorang ustadzahku di Jogja mengirimi kami, posko pengungsian di desa kami, dengan genset yang baru dibelikannya untuk kami. Alhamdulillah… sedikit kegelapan telah terkurangi.
Bagaimana dengan hati yang kasat mata ini ya Rabb? Kumencari cahayaMU… gelap ini sempat hadir. Saat kelelahan fisik dan ruhiyah tak tertahan… mungkin dalam kesibukan beragam aktivitas, kita terlupa mengisi minyak tanah dalam lampu teplok itu, sehingga menyebabkan kekeringan, dan bahkan sumbunya terbakar. lalu, semua menjadi gelap.
Lelah itu kadang hadir menyergap. Maka kita pun harus segera meraba jalan, mencoba mencari pegangan agar tak terpeleset, agar tak menabrak, agar tak jatuh, dan harus segera mencari cahaya… untuk menerangi jalanku ini. Ya Rabb, berikan aku cahayaMU…
Ya Rabb, hati ini menjadi sangat takut. tak jarang hati ini berdegup kencang. Gelap ini belum seberapa dengan alam kubur yang tanpa cahaya. Rasa takut tak jarang menyergapku.
Ya Allah, gelap ini menjadi amat terasa mengerikan. Aku ingin segera berlari, mencari cahaya. Ya, mencari cahaya untuk bekalku nanti di alam kubur. Aku ingin mengumpulkan pelita-pelita dalam hatiku. Mungkin desaku masih gelap tanpa listrik dan tanpa matahari, namun hati ini harus segera bangkit, dan tidak merasakan kegelapan lagi, untuk itu, selamanya, kami akan terus mencari cahayaMU, dan menjadikan hati kami bercahaya.
Ya Allah, lapangkanlah kubur kami kelak, dan terangilah dengan cahayaMU…

Dalam ketakutan akan kegelapan hati…
12 November 2010

Advertisements

2 thoughts on “mencari cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s