Memaknai Jaulah Setahun yang lalu


Satu tahun yang lalu, April – Mei 2010. Banyak sekali pelajaran kudapatkan. Belajar sejenak di negeri tetangga. Beberapa waktu di Universiti Teknologi Malaysia, sejenak di Kuala Lumpur dan lebih banyak di Skudai – Johor Bahru, disambut dengan aura dan suasana yang menyenangkan.

pesan bagus

Ini Nasihat Best sangat!


Kampanye2 kebaikan memenuhi lingkungan kampus. Mungkin sebagian orang masih menganggap Malaysia itu dzalim terhadap Indonesia. Bagi aku, hal itu hanyalah masalah cara pandang saja. Cara pandang positif dan cara pandang negatif. Janganlah menyalahkan orang lain, Rakyat Indonesia saja lebih banyak dzalim terhadap negeri(diri)nya sendiri. Ya, kampus yang penuh dengan pesan moral begitu aku menyebutnya. Ada papan pesan dilarang berkhalwat (no couple), ada pesan untuk tunaikan sholat, ada pesan untuk memakai hijab. Bahkan terdapat pesan prepare for exam dengan point pertama call parent, artinya minta do’a restu orang tua. Best sangat!


Aku sedang tidak membandingkan kondisi Indonesia-Malaysia lho ya, aku merasa tidak berhak, selain aku di sana tidak lama, yang penting kan sebanyak2nya mengambil ibroh. Ya, yang terpenting aku bisa belajar dari sesuatu yang aku temui di sana, untuk membuat diri ini lebih baik.
Pertama menginjakkan kaki di KL, justru yang kurasakan ingin lekas kembali pulang. Ga ngerti kenapa. Mungkin karena saat itu banyak hal yang kutinggalkan di Jogja.
Tapi di hari kedua dan seterusnya, aku mulai menikmatinya. Hari-hari awal di KL, kami, delegasi mahasiswa Indonesia belajar tentang banyak hal di UTM KL. Karena di kampus KL adalah untuk program master dan beberapa program khusus, kami belajar hal-hal baru yang khas, di luar program reguler.
Salah satunya di CASE (Center for Advanced Software Engineering), kami belajar banyak tentang security system of information.
Ini salah satu yang sangat menyenangkan. Namun karena waktunya terbatas, kami harus menahan keinginan kami untuk lebih lama di sana dan harus segera menyiapkan diri bergerak menuju Johor. Sebelum ke Johor, kami menghabiskan hari terakhir di KL dengan berkeliling kota. Bagiku, yang cukup berkesan adalah kejadian kehilangan 1 taxi beserta isinya.
Dengan sekitar 8 teksi, kami bergerak dari kampus UTM ke stasiun (duh lupa namanya)… namun setiba di station itu, kami kehilangan 1 taxi. Kebetulan kami belum beli nomor Malaysia, dan rata2 kami kehabisan pulsa. Karena pake nomor Indonesia, beberapa kali sms, pulsa langsung habis. Nomor mereka pun ternyata tak dapat dihubungi. And then, teman2 berangkat duluan naik train. Sementara aku dan dua orang teman, didampingi salah satu pensyarah dari UTM menunggui 1 teksi itu. Hingga setelah sekitar 30 menit, akhirnya kami menyerah. Tinggal aja deh, lanjutkan perjalanan! Tet tot… ternyata eh ternyata, empat orang di dalam taxi itu sudah sampai di tempat yang kami tuju. Pada esmosi tu temen2. He2… apalagi yang dicari dan yang ditunggu itu cengar-cengir aja pas kami datang.

O iya, pas kami datang ke Putra Jaya, di sana sedang ramai orang, persiapan Sea Games. Senang dapet tontonan gratis yang sedang latihan bermain terompet. Semacam grup musik terompet besar. Terdiri dari banyak orang, dan semua memegang terompet berbagai jenis. Wow…

KL Tower, Twin Tower, Petaling Street.

Selepas itu, bersiap bergerak dari Kuala Lumpur menuju Johor.
Selama di Johor, kami menjalani inbound programm yang sesungguhnya. Yang di KL cuma tambahan aja, belum masuk program. Aktivitas kami bisa dibilang sangat padat. Sempat drop juga.
Hari demi hari berlalu. Kolej 11 menjadi tempat yang bersejarah bagi kami yang menghuninya. Termasuk episode setiap pagi, kami harus cepat-cepat bergerak menuju cafetaria tuk breakfast, dengan selalu meninggalkan salah satu teman yang bergelar “miss telat” (afwan ya ukh…^_^).
Materi demi materi. Jaulah demi jaulah. Jaulah bersama beberapa dosen di pembangunan highway, menengok Putri Harbour, belajar di dewan negeri Johor Bahru (nusajaya) dan beberapa kesempatan untuk diskusi dengan para profesor muda di Civil Engineering, UTM.
Dari semua perjalanan serta diskusi2 dengan para profesor yang masih berusia muda itulah, semangatku muncul. Bahwa jalan menuju mihwar dauli itu harus dimulai dari masing-masing penyangga jamaah ini. Ya, dari tiap pribadi-pribadi, dari tiap2 da’inya. Aku pun bersemangat untuk segera lulus. Lagi-lagi tentang satu tema ini. Ya, karena satu tahun telah berlalu…semangat yang dulu telah muncul itu perlu untuk dibangkitkan kembali… Memang dengan tujuan itulah tulisan ini dibuat. Tepat satu tahun yang lalu, aku tangah berada di negeri seberang, untuk belajar sejenak. Memunculkan semangat besar untuk terus berkontribusi dengan ilmuku. Satu tahun…semangat itu harus dibangkitkan kembali. Allahu Akbar!!!
Keinginan untuk S2 di Malaysia, IIUM, ambil Ekonomi Syari’ah, kemana??? Keinginan si masi kuat, tapi kok yo masi aja di sini…^_^
Oke2… sekarang semangat lagi ya!
Ingat satu malam di rumah keluarga Profesor Shahrin! You know-lah, what must you do…Move on!
Kebersamaan dengan keluarga itu, menghadirkan inspirasi yang luar biasa. Semoga, suatu saat nanti, bisa berjumpa kembali…
Mengingat keluarga ini, jadi menghangat kedua mataku… terima kasih banyak Prof Shahrin, Makcik Zurina, Lina, dan Nurin. Selalu ingat kata2 Nurin “boleh…boleh…boleh…” atau “betul…betul…betul…” khas ipin upin… (semoga nanti ada satu tulisan tentang kebersamaan dengan keluarga ini)
To be continued for otherside story of Kembara Ke Johor….
Batupahat… Danga Bay… Sekolah Hidayah… Tadika ? (apa namanya ya, lupa)… Raudhatus Sakinah… Bowling Indonesia-Malaysia… Kompetisi Sukan… My Birthday…
Spesial untuk Kak Fida (Pensyarah di Fakulti Kejuruteraan Alam UTM) dalam usia yang masih muda, telah berkarya luar biasa, sudah selesai PhD-nya kah? Tetap sabar berdakwah di kampus ya Kak. Suatu saat nanti, semoga Allah mempertemukan kembali setelah dua kali perjumpaan kita… Semoga Allah selamatkan kita selalu…
Menjadi sahabat untuk selamanya
Atasi semua perbedaan

Tulisan ini untuk menyambut reuni KKJ (Kembara Ke Johor), hari ini di Jogjakarta, dengan kedatangan salah satu ikhwah UTM yang berziarah ke Indonesia. Sekaligus untuk mengembalikan semangat yang telah lahir setahun yang lalu…

Advertisements

3 thoughts on “Memaknai Jaulah Setahun yang lalu

  1. zi… aku juga sering ikut KKJ (Kembara Ke Jombor)…
    naik bis cemara tunggal dari semen sampe sana. bayarnya cuma 4 ribu… abis itu sambung jalur 5 yg ke kampus.. turun di bunderan filsafat, trus kuliah deh… hahahaha…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s