yang telah pergi…


Termangu dan tergugu
Sejenak setelah kurebahkan tubuhku selepas perjalananan panjang Jogja-Jakarta, sebuah sms masuk ke hpku
Diawali dengan “Innalillahi wa innailaihi roji’un”. Hatiku mulai berdegup. Dan ketika sampai pada kata “Ustadzah Yoyoh Yusroh”, rasa lelah dan kantuk itu seketika hilang. Tertegun untuk sekian detik. Lalu segera ku kabarkan pada teman di sampingku. Segera meng-sms teman-teman minta konfirmasi ke Barnard, salah satu menantu beliau yang kebetulan teman kami.
Ya, kabar itu benar adanya.
Seolah masih belum percaya. Ku mencoba sms beberapa orang untuk memastikan pemakaman beliau.
Pagi itu, kami berangkat ke kalibata. Sejenak bercakap dengan Asma, putri beliau. Berbincang dengan Bu Ledia tentang kecelakaan yang dialami ustadzah Yoyoh.
Tak dapat kuceritakan perasaanku saat itu.
Tergugu dan deras mengalir air mataku…
Kehilangan… semua merasa kehilangan.
Kesaksian dari Ustadz Hilmi dan Ustadz Anis Matta semakin membuat hatiku bergetar karena merasa telah melewatkan banyak waktu untuk belajar dari beliau. Allahu Rabbi… hari yang begitu bermakna untuk kami semua.
Teringat percakapan kecil dengan beliau di dalam mobil saat aku menjemput ke sebuah acara di Jogja. Perbincanganku dengan beliau tentang peran muslimah pascamenikah, kemudian mengalir kisah beliau tentang muslimah di Palestin. Hingga masalah kuliah (kebetulan Pak Umar, putra pertama beliau satu jurusan denganku). Selalu teringat hingga kini. Bahkan teguran kecil saat aku terlambat menjemput beliau pun masih terekam jelas. Ya, aku terlambat menjemput beliau saat itu. Tidak sigap saat tak kudapatkan satupun mobil di DPW yang bisa kupinjam. Kenapa tak berinisiatif mencari taksi? Sungguh, tidak bersegera diri ini. Hingga mobil yang kutunggu pun datang ke DPW. Segera meluncur. Tapi tetap saja, terlambat!!!
Sangat terkesan dan terkenang dengan pertemuan ini, sekitar bulan Januari lalu. Jam10 ditelpon seorang ummahat DPW. “Uzy, ustadzah Yoyoh di Jogja. Minta tolong nanti sore buat acara untuk akhwat kampus ya, segera cari tempat, maks dzuhur ini. Nanti langsung dita’limatkan. Untuk semuanya, saya serahkan ke uzy.”
“Ya, ummi. Insya Allah.”
Alhamdulillah, akhirnya pertemuan itu tetap berhasil diselenggarakan, meski dengan peluh bercucuran. Ya, pertemuan terakhirku dengan beliau, setelah sebelumnya beberapa kali perjumpaan.
Semoga akan terus terkenang nasehat beliau. Semoga diri ini menjadi salah satu penerus perjuangan beliau. Ya Allah, pertemukan aku kembali dengan beliau di jannahMU. Amiin…
Tiba-tiba ingin menulis tentangnya, setelah kembali meneteskan air mata, melihat video terakhir beliau, serta membuka blog testimoni almarhumah ustadzah yoyoh yusroh, http://yoyohyusrohtestimoni.wordpress.com

Semoga kami dapat melanjutkan perjuanganmu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s