terima kasih nenek



Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negeri kau sambangi

Tertatih ia berjalan dengan tongkat kayunya. Menyusuri jalan bebatuan. Jangan kau bayangkan langkah-langkahnya tegak dan cepat. Sama sekali tidak. Benar-benar lemah langkah kakinya.
Sempat kulirik kakinya terlilit mitela. Artinya, kakinya memang bermasalah. Ia tetap melangkah. Tangan kanan memegangi tongkat, sementara tangan kirinya memegangi lembaran kertas. Surat undangan pilbup dan kartu pemilih.
Engkau tau yang muncul di otakku saat itu? Allahu Rabbi… Aku malu… nenek itu tertatih-tatih berjalan, tetap melaksanakan kewajibannya.
Berjalan seorang diri. Dengan jalan terjal. Dengan jarak yang tak dekat. Harus melintasi jalanan berkelok-kelok dan jelek, plus tanjakan, sekitar satu kilometer. Sekilas muncul pertanyaan, di mana anaknya, kenapa dibiarkan nenek ini berjalan sendirian? Benar2 tertatih. Saat aku melintasinya, ada ibu-ibu yang menghampiri. Lalu membiarkan nenek itu melanjutkan perjalanan kembali, si ibu terus memandangi (mereka berlawanan arah). Jangan tanya kenapa aku tak menemani si nenek jalan kaki ya, ntar kewajibanku malah jadinya tak tertunaikan…
Ya, aku sangat malu… sang nenek, dalam kondisi seperti itu tetap memenuhi kewajibannya. Entah dengan motif apa. apapun motifnya, itu sebuah hal yang luar biasa. Sungguh, beliau sudah sangat renta. Sedangkan diri ini, masih saja rela dihinggapi rasa malas. Padahal, tujuan kita jelas. Syurga firdaus. Itulah motif amalan2 kita. Kenapa masih saja bermalas2an??? Padahal, tujuan kita jelas, dengan profesi du’at, tiada lain ridho Allah dan keberkahan hidup yang kita cari, tetapi kenapa masih saja kita merasa pesimis atas kemenangan yang Allah janjikan? Kemenangan abadi kelak di akhirat.
Allah…sungguh, aku malu. Belajar tentang semangat si nenek. Setiap langkahnya yang tertatih itu, selalu ada harapan. Harapan untuk menang. Entah siapapun yang ia pilih di pilbup itu. Ya, harapan…
Allah, aku coba menyalakan kembali harapan itu. Memang sempat meredup. Terlalu banyak angin yang menerpa. Tapi bukan berarti aku boleh menyerah. Mengembalikan semangatku untuk tetap di barisan terdepan. Mungkin aku sudah lalai…mungkin aku sudah terperdaya… Terima kasih Ya Allah, Engkau pertemukan aku dengan nenek itu.
Cerita tentang nenek luar biasa itu sebenarnya hanya menjadi sebuah awalan dari tulisan ini. Pun dengan bait awal lagu “Sang Murabbi”. Nasyid sang murabbi itu sedikit mengingatkanku saat harus melintasi daerah yang cukup pelosok di Kulon Progo. Sangat bersyukur saat mendapat jatah menjadi relawan di sebuah desa yang cukup jauh dan dengan medan yang membutuhkan kesabaran. Ya, kenapa aku bilang butuh kesabaran? Ehm…ini akan menjadi tulisan tersendiri nantinya.
Aku kembali refleksi diri. Banyak hal yang mungkin harus kita tumbuhkan kembali dalam jiwa kita. Bagaimana memaknai jihad siyasi yang sedang kita lakukan. Kadang, kita terjebak dalam kesalahan orientasi. Kita hanya berorientasi pada hasil. Padahal banyak hal yang lebih esensi dari itu. Kemenangan memang sesuatu yang kita harapkan. Namun, jangan sampai orientasi itu menjadikan kita terlena. Bagaimana kita memaknai tadhiyah? Bagaimana kita memaknai kata jihad? Tho’at? Dan lain sebagainya.
Beberapa hari sebelum hari H, sengaja aku membahas tentang risalah jihad dengan para adikku. Kapan jihad itu menjadi fardhu ‘ain? Dan tiba-tiba saja aku mengingat semangat jihad yang dulu pernah aku rasakan di waktu-waktu yang lalu. Bagaimana setiap diri berlomba memberikan pengorbanan terbaiknya untuk dakwah ini. Ya, aku rindu suasana itu. Rasanya sudah lama sekali… Alhamdulillah seruan jihad ini kembali memanggil…
Ya, bertemu dengan nenek itu. Semakin membuatku malu.
Ingin sekali aku bagi apa yang aku rasakan. Tapi aku tak mampu. Kata-kata yang kutulisakan di sini, tak cukup mewakili apa yang sesungguhnya ingin kusampaikan. Karena keterbatasanku.
Bahkan ketika ta’limat untuk adik-adikku tak lagi menjadi ta’limat, namun lebih dari itu. Aku ingin adik-adik merasakan semangat jihad Rasulullah dan para sahabat. Semangat itu! Sekali lagi, aku malu dengan si nenek.
Mari, kita sama-sama merenung kembali. Meskipun kemenangan yang diharapkan tak kita dapatkan, tapi tidak akan berarti kekalahan bagi seorang pejuang. Bagaimana, menangkah di hati kalian?
refleksi singkat pilkada KP

Advertisements

One thought on “terima kasih nenek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s