Belajar dari Perjalanan…


Survey Lokasi. Memasuki gapura besar, “Desa Sidomulyo”, langsung disambut dengan lubang-lubang di sepanjang jalan. Awalnya tak begitu terasa. Namun semakin masuk, semakin masuk, aku mulai menyusuri jalan yang semakin terjal.
Ingatanku langsung tertuju pada jalan menuju rumahku, beberapa tahun yang lalu. Ya, jalanan yang sangat tak ingin dilewati setiap orang. Bahkan setiap kali teman-temanku bertandang ke rumahku, komentar mereka, “Ga ada jalan ke rumah Uzy, yang ada kali asat (sungai kering)” Lha isinya batu-batuan semua, aspalnya berlubang di sana sini, ga bisa milih jalan karena saking rusaknya. Begitulah jalan memasuki desaku.
Sabtu Sore, menjelang senja, melewati jalan2 terjal itu, rasanya lelah sekali. Mengikuti si Bapak penunjuk jalan menuju TPS-TPS yang akan kami sambangi di esok harinya.
Saat harus melintasi jalan2 terjal itu, aku harus memilih jalan yang tak terlalu rusak, jadi harus pintar2 mengendalikan setir motor. Lalu…muncullah berbagai pikiran dalam kepalaku.
Anggap saja jalan terjal dan bebatuan itu adalah ujian. Orang yang sama-sama bisa naik motor, yang satu terbiasa di jalan terjal, dan yang satunya terbiasa dengan jalan halus. Mana yang lebih pinter naik motor? Siapa yang lebih terampil mengendalikan gigi, gas, dan rem? Kalo seseorang yang diberikan medan jalan yang terjal, ia tetep aja asal jalan, dan ga milih2 jalan, asal ngegas aja, sampe tujuan si, tapi apa hasilnya? Motornya cepet rusak. Atau bisa jadi di jalan bisa terpeleset, terperosok, ga kuat nanjak, dan lain2.
Nah, untuk bisa melewati jalan terjal itu dengan baik, maka orang itu harus sabar. Saat harus melintasi lubang, maka remnya dimainkan. Pun ketika harus berkelok, ia harus memainkan rem dan gas sebaik mungkin. Harus tancap gas saat tanjakan.
Nah, jika kondisi jalan yang dilewati, baik belokan, tanjakan, maupun turunan, semuanya jalan berlubang…itu artinya, kita musti benar2 sabar dan hati2. So, saat nanjak juga ga asal ngegas. Butuh ketrampilan dan kesabaran.
Ya, saat itu, aku mengikuti Bapak penunjuk jalan, langsung merasakan, harus sangat bersabar melewati jalan-jalan terjal ini. Kalau boleh dikomentari ya, jalannya jeleeeeeeeeeeeeek buanget! (Jadi ingat KKD – Kuliah Kerja Dakwah- di Sawangan sama adik2, mereka pada protes karena jalannya jelek banget. Aku Cuma senyum2 aja.)
Sementara itu, orang yang terbiasa di jalan mulus dan halus, ya ketrampilannya ya gitu2 aja. Sekalinya dikasih jalan jelek, mungkin kepleset, atau mungkin asal ngegas dan bikin motor rusak, atau mungkin menjadi sangat pelan jalannya.
Ya, akhirnya…….perjalanan kali ini, kembali mengingatkanku untuk tetap bersyukur. Ya, atas setiap ujian yang bertandang.
Ya, kita harus bersyukur atas semua ujian-ujian yang Allah berikan pada kita. Kuncinya hanya satu. Sabar. Sabar. Sabar.
Sabar bukan berarti pasrah menerima. Sabar itu adalah sikap yang menggerakkan.
Bersyukur atas hidupku selama ini. Allah tak akan pernah salah memberikan ujian untuk kita. Kalau kita lihat di sekitar kita, masih sering terdengar ada kalimat “kenapa musti aku yang diberikan ujian ini?” Sekali lagi, Allah tidak akan pernah salah mengalamatkan ujian.
Aku bahagia. Aku bahagia masih bisa merasakan kesedihan. Namun, bagaimana selanjutnya kita mampu mengubah kesedihan itu menjadi sesuatu yang membahagiakan. Yakinlah, Allah Loves us…
Dan kau tahu, setelah melewati jalan terjal itu, Allah memperlihatkan pemandangan yang sangat indah…. pemandangan sawah luas dan pepohonan di pinggir jalan. Pemandangan yang sangat indah… Lengkap sudah perjalananku sore itu dengan perenungan di sepanjang perjalanan. Jalan terjal yang menemani hidupku, semoga adalah sesuatu yang akan menguatkanku. Ya, tak mudah memang menjalani ini semua. Kadang muncul rasa tak sabar untuk segera melihat pemandangan indah itu. Namun aku akan memilih untuk bersabar. Sekali lagi, meski ini sangat tidak mudah. Meski kadang harus terjatuh karena tak berhasil lewati lubang dengan baik, meski kadang harus berhenti memperbaiki rantai yang lepas, meski kadang harus berhenti saat tak kuat di jalan menanjak, menahan dengan rem di tangah, menurunkan gigi, lalu menarik gas pelan2 lagi. Semua itu akan membuat kita terampil melewati perjalanan hidup. Menjadikan diri kita tegar dan kuat.
Kau tahu? Aku sendiri tak tahu, kapan akhir dari perjalananku ini… Kalaupun tak kudapati pemandangan indah di dunia ini, semoga Allah siapkan itu saat kumenemuiNYA nanti…
Ya, seperti itulah hidup. Bagaimana kita mengolah rasa. Bagaimana kita tetap bersyukur padaNYA. Karena IA-lah yang menciptakan hujan, menciptakan mentari, menciptakan pelangi. Allah Loves me… Thanks Allah… ^_^
tulisan ini didedikasikan untuk para pejuang yang senantiasa bersabar dengan terjalnya jalan yang dilalui..

Advertisements

2 thoughts on “Belajar dari Perjalanan…

  1. , “Ga ada jalan ke rumah Uzy, yang ada kali asat (sungai kering)” Lha isinya batu-batuan semua,”
    hahahh, dadi pengen ngerasain lewat kali asat nya mbak uzi:p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s