My Supermom… 3#


keinginan untuk menulis tentangnya senantiasa hadir. ku tak tahu, akhir-akhir ini, rasanya ingin selalu pulang. Sudah tiga pekan ini, aku selalu menyempatkan diri pulang setiap pekan. Rasa itu begitu kuat. Untuk bersamanya…
Malam itu, kami menonton sebuah film
Perjuangan seorang ibu dalam menjalankan perannya
Kasih sayang ibu yang begitu luar biasa
Akan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya
Ibu yang begitu tangguh
Tetap tersenyum dan menjadi penyemangat anak-anaknya
Meski dalam kondisi yang sangat tidak ideal
Ibu dan aku meneteskan air mata bersama (lagi-lagi, ibu selalu menyapu air matanya setiap kristal-kristal itu mulai mencair)
Tak ada yang keluar dari mulut kami berdua
Ingin segera aku memeluk ibuku
Tapi tertahan
Biarlah semua mengalir dalam diam
Ibuku seperti sosok ibu dalam film itu
Dan aku pun ingin sepertinya
Ibu hebat!
Ibu yang tegar dan kuat!
Aku sadar, untuk menjadi hebat, untuk menjadi kuat, untuk menjadi tangguh,
Semua itu tak mungkin bisa instan
Harus ditempa, harus diuji
Terima kasih ya Rabb, yang telah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi putri dari ibuku

Teringat masa kecilku
Ialah yang mengajariku untuk tegar dan mandiri
Mengajariku menjadi orang yang bertanggung jawab
Mengajariku, dengan caranya yang memang tak biasa
Tiap kali aku pulang mengadu sambil menangis karena berantem dengan kawan
Ibuku akan sabar mendengarkan ceritaku, namun selalu… tak ada pembelaan darinya
Ia hanya mengatakan, mungkin ia tak sengaja, mungkin aku yang salah, mungkin aku yang telah membuatnya marah
Ibuku mengajariku untuk tak menyalahkan orang lain
Bisa jadi memang temanmu yang salah, tapi aku diajari ibuku untuk tak menyalahkannya
Ia mengajariku untuk memaafkan
Selalu
Ya, selalu… ibuku mengajakku untuk husnudzon, ibu mengajakku untuk tak menyalahkan orang lain, ibu mengajariku untuk selalu introspeksi diri
Bahkan, pernah suatu ketika, saat aku kelas 3 SD, ibu temanku datang ke rumah, “memarahiku”, membela anaknya yang tak sengaja tersenggol olehku dengan penggaris dan membuatnya sedikit terluka
Temanku mengadu pada ibunya, dan ibu itu mendatangiku ke rumah
Tak satu patah katapun yang keluar dari mulut ibu, saat ibu temanku bicara padaku
Ia hanya memandangku dengan senyuman, memberikan energi untuk bisa menyelesaikan masalahku itu, meski harus berhadapan dengan orang dewasa, ia mengajariku untuk bertanggung jawab atas kesalahanku itu

Ibuku, ia tak banyak menasehatiku dengan kata2
Ibuku mengajariku dengan caranya
Ibuku, tak ia izinkan aku bersandar di bahunya…
Bahkan saat aku letih dan aku hendak bersandar di bahu ibu, ia akan menegakkan kembali badanku dengan tangannya. Ia tak izinkan aku menjadi manusia lemah.
Saat mataku terpejam tanpa selimut, ialah yang selalu menyelimutiku…
Setiap pagi, ia selalu siap dengan sarapan untukku dan tak akan membiarkanku berangkat sebelum memakannya
Pun saat kusampaikan “buru-buru mi”, sambil aku memakai sepatu, ia akan menyuapiku
Setiap aku pulang sekolah, ia telah siap dengan jus tomat kesukaanku.
Saat aku asyik dengan buku atau komputer di malam hariku, ia datang dengan membawakan makan malamku
Semua itu ia lakukan, tanpa kuminta…
Itulah ibu…
Maaf Ummi, uzy belum bisa menjadi seperti yang diharapkan. Namun, uzy akan tetap berusaha sekuat tenaga, melakukan yang terbaik, untuk menjadi anak shalihah bagimu…
Ya Allah, jaga selalu ibuku…

Advertisements

One thought on “My Supermom… 3#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s