My Superdad…


Hadis riwayat Abu Hurairah ra.,
ia berkata: Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim No.4621)

Setelah tiga tulisan tentang ibu, kini aku ingin menulis tentang Bapak. Mungkin itu representasi hadits itu, 3 tulisan tentang ibu (padahal dulu pernah posting tulisan juga tentang ibu), dan kali ini tentang Bapak.
Aku sangat ingat, dulu…mbak2 kost-ku sering iri denganku. Bapakmu luar biasa, Zi. Seneng banget punya Bapak kayak bapakmu.
Beliau memang bukan siapa-siapa. Bagiku, beliau luar biasa. Ehm…mengingatnya menjadi menghangat mata ini. Aku sangat dekat dengan Bapak, sejak kecil.
Dulu, di masa kecilku, setiap pekan sekali, kami berdua naik ke desa di kaki gunung Merbabu untuk mengecek ternak-ternak Bapak. Ngecek sapi-sapi Bapak. Kadang aku meminta susu hasil perahan sapi itu. Tapi giliran dimasakkan di rumah, aku tak mau minum. He2…
Saat-saat SD, Bapaklah yang dengan sabar menyelesaikan kebandelan-kebandelanku. Bapak sangat jarang marah. Beliau benar-benar orang yang sangat sabar.
Dibanding Ibu, Bapak lebih memanjakanku. Dan aku suka itu ^_^ Eits, tapi Bapak akan sangat tegas untuk urusan agama. Begitulah Bapak menjaga kami..
Aku sangat merasakan kasih sayang Bapak. Sangat. Sejak SD sampai SMP, Bapak memang cenderung protected.
Saat SMA, dialog-dialog serius mulai terbuka. Aku mulai diakomodir dengan pemikiranku. Saat-saat SMA itulah, diskusi-diskusi dengan Bapak menjadi sangat mengasyikkan dan akan seru jika ada perbedaan pendapat. Menyenangkan.
Aku dan Bapak, sering berpetualang bersama. Ia banyak bercerita, berkisah, dan memberikan pelajaran melalui cerita-ceritanya.
Dan yang membuat mbak-mbak kost-ku iri, adalah karena Bapakku baik banget.
Suatu pagi, sekitar jam 6. Pintu kontrakan kami diketuk orang. Tak biasanya ada tamu pagi2.
“Uzy, ada yang cari.”
“siapa mbak?”
“nggak tau, Bapak2.”
Aku keluar dari pintu depan.
Apa yang kudapati?
Bapak tersenyum dengan sangat tulus. Di sampingnya, sepeda mini warna merah yang sangat cantik.
“Assalamu’alaikum.” dengan senyum khas Bapak super ceria.
“Wa’alaikumussalam. Allahu Rabbi… Bapak….” langsung kusalami dan kucium tangannya.
“Bapak dari rumah?”
“iya, tadi berangkat ba’da subuh.”
Subhanallah…. padahal aku tak meminta sepeda. Memang, pulang terakhir aku sempat mengatakan, sedang menabung untuk beli sepeda.
Tak disangka dan tak dinyana. Hari itu, Bapak datang membawakannya untukku.
“Bapak….kok beliin uzy sepeda tho? Uzy kan ga minta.”
“Ga apa2. Ini buat Uzy.”
“Bapak masuk dulu, istirahat. Uzy belikan sarapan dulu ya.”
“ga usah, bapak diantar ke Jombor aja. Bapak mau langsung pulang.”
Di dalam kontrakan, mbak2 (aku adik termuda di kontrakan) pada ribut. Uzy tega banget si sama Bapaknya, kok minta sepeda sampai dianterin gitu.
“konferensi persnya nanti ya mbak. Uzy mau nganter Bapak dulu. He2..”
Setelah Bapak pulang, perbincangan menjadi sangat panjang tentang Bapak yang naik sepeda dari rumah sampai kontrakanku, untuk mengantar sepeda itu untukku.
Mbak-mbak kost-ku sangat terharu. Aku juga. Namun buatku, apa yang dilakukan Bapak ini baru sebagian kecil dari seluruhnya yang ia lakukan.
Pernah juga, tiba2 datang ke asrama membawakanku tas punggung baru. Lagi-lagi aku protes, “Bapak, tas Uzy masih bagus. Memang sudah lama, tapi awet kok.”
Kala itu, kuterima tas itu dengan tersenyum, sambil menahan rasa haru.
“Terima kasih Bapak…” sambil kucium tangannya.
Semoga diberkahi…
Pernah juga tiba-tiba Bapak membelikanku helm baru. Helm lamaku saat itu sudah berusia lebih dari 7tahun. Bapak merasa helmku sudah usang, makanya beliau membelikanku helm baru yang bagus dan mahal (kaget juga pas tahu harganya). Tapi…baru tiga hari kupakai, helm itu hilang. Rasanya sedih sekali. Aku berazzam akan segera membeli helm yang sama persis sebelum pulang ke rumah. Eh…aku lupa, ada agenda ke Magelang, trus aku mampir ke rumah padahal belum beli helm baru. Bapak langsung menanyakan helmku. Aku cuma cengar cengir, tapi tetap dengan rasa sangat bersalah. Trus berujar, “Emang jodoh Uzy itu helm biru ini Pak. Dia ga mau pisah sama Uzy. Hehe…” (Saat ini helm biruku berusia sekitar 9tahun, keren kan? Alhamdulillah barang2ku awet, ada di muwashoffat si, menjaga fasilitas pribadi ^_^)
Sejak aku kuliah di Jogja, setiap kali aku pulang, matanya nampak berbinar. Senang. Bahkan kadang, kalo sudah lama tak pulang, Bapak telpon, “Bapak jemput ya.” atau, “Bapak ke Jogja ya. Mau dibawain apa?” Segera kujawab, “Mboten usah Pak. Segera uzy agendakan untuk pulang, semoga pekan ini bisa pulang.”
My superdad!!! Bapakku baiiiiiik banget….
Bapakku super baik. Bapakku sangat pandai mengekspresikan rasa sayangnya, meski beliau cukup tegas. Bapakku orangnya meski keras begitu, tapi sangat menyenangkan dan humoris.
Temen-temenku suka ngobrol dengan Bapak, atau kebalik ya? Bapak suka ngobrol dengan teman2ku? He2.. Pernah suatu ketika teman2 mampir setelah survey acara di Magelang. Udah malam. Yang akhwat udah kusak kusuk di dalem. Ikhwan-ikhwan ngobrol sama Bapak ga selesai2. Agak gregetan karena ikhwan2 pada ga peka udah jam segitu,
“Yang akhwat pamit dulu ya. Tafadhol ikhwannya mau pulang kapan.” Sindiran halus sebenarnya…
“Yah…kok pamit si, kan lagi asyik diskusi dengan Bapaknya Uzy.” segah mereka sambil senyam senyum.
“Besok lagi dilanjutin. Udah malam.”
“Baiklah…. Kami pamit dulu ya Pak” akhirnya mereka mengalah.
Bapak…Bapak… Bapakku kadang lucu. Seneng guyon dengan siapapun.
Sekarang Bapak sudah menginjak usia lebih dari 61 tahun. Sudah sepuh. Namun semangatnya, tetap menembus panas dan hujan. Untuk urusan dakwah pun, aku musti belajar banyak darinya. Semoga semangat itu bisa menurun padaku.
Bapak mengertiku. Pernah aku curhat, “Bapak, jadi anak tengah itu ga enak ya. Tahu rasanya jadi adik, jadi pas mau ngapa2in adik, bisa berempati, jadinya ngalah sama adik. Pas sama kakak juga gitu, tahu rasanya jadi kakak. Jadinya, ngalah juga sama kakak. Posisinya jadi serba salah. Harus ngerti dua2nya.”
Bapak cuma tersenyum, “Sama. Bapak juga begitu kok. Kamu yang sabar aja ngemong adik dan kakak.” Oups, iya juga ya, Bapak kan sama, anak kedua dari tiga bersaudara. Wah, ternyata aku mirip Bapak ^_^
Ya, ternyata aku mirip Bapak. Tegasnya, humorisnya (tapi kalo aku garing ^_^), ekspresifnya si enggak (lebih mirip ummi), ga tegaan, ga pernah marah (insya Allah…), dan memang Bapakku kadang jayus banget…
Satu lagi, istimewanya Bapak, beliau biasa terjun ke dunia rumah tangga. Mulai dari bersihin rumah, nyuci, sampe nyetrika. Kerjaan Bapak rapi 😀
Memang, tulisan tentang ibu 3 tulisan, tapi masing2 hanya 1 halaman. Sedang tentang Bapak, satu tulisan, tapi puanjang…. Ow..ow..jadinya sama aja! He2…
Hanya ingin menulis. Selagi masih sempat menulis. Semangat berbagi dengan orang lain! Semoga bisa diambil hikmah. Untuk lebih menghormati dan menghargai Bapak dan Ibu kita.
Ya Allah…aku bersyukur, karena hingga kini aku masih bisa bersamanya…
tulisan ini kayaknya curcol ya? Hehe…but, semoga tep bermanfaat dan semoga bisa menginspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s