Tentang Cinta


Cinta seperti apakah yang harus kita menangkan? Cinta kepada siapakah yang harus kita utamakan?
Cukup terinspirasi menulis tentang satu kata itu. Jujur, aku tak cukup pandai mengolah kata tentang kata ini. Ya, karena kata ini terlalu sulit untuk dituliskan. Karena ia adalah kata kerja, begitu kata ustadz Anis Matta.

Ia tak perlu didefinisikan. Tahu lagunya Bram yang berjudul makna cinta?

    Saat kecil ku pernah bertanya
    Tentang arti cinta pada bunda
    Bunda pun menjawab
    Cinta adalah kasih sayang induk dan anaknya


    Adakah yang mampu menjawab
    Makna cinta yang slalu kutanyakan

    Mungkin tak terjawab dengan kata
    Mungkin cinta hanya tuk dirasa


    Mungkin takkan kutemukan makna cinta
    Sebelum kumenjalaninya

Kali ini, tak ada salahnya aku mencoba menuliskan inspirasi yang hadir dalam benakku ini. Ku yakin, tak akan ada habisnya untuk dibicarakan, untuk dituliskan.

Kalau kata Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, arti kata cinta itu luas sekali. Dalam bahasa inggris kita mengenal love, kata cinta tak cukup diterjemahkan dengan mahabbah.
Setiap kata memiliki perbedaan rasa dan kekuatannya pada jiwa. Sakinah, mawaddah, dan rahmah ketiganya adalah cinta.
Yang pertama memberi perasaan tenang pada jiwa, seperti tenangnya lautan setelah berombak.
Yang kedua bermakna cinta utopis, cinta yang menggebu-gebu, memberi semangat, membangkitkan harapan, menghidupkan kekuatan.
Sementara yang ketiga, adalah tulusnya perasaan dengan keikhlasan untuk mencintai apa adanya, tanpa pamrih, tanpa keluh kesah terhadap kekurangan yang dicintainya itu.
Cinta kadang menguras air mata. Air mata yang mengalir pun memiliki banyak makna.
Kecintaan terhadap dakwah, kerinduan terhadap Palestina, menghadirkan air mata di sana.
Air mata ini membangkitkan kekuatan untuk berjuang.
Namun, sama-sama air mata, ada yang menenggelamkan diri kita dalam kesedihan yang membuat kita tidak sanggup untuk berkata lantang. Sama-sama disebut cinta, tapi berbeda akar dan arahnya.
Saat cinta itu tumbuh, dan tiba-tiba harus terhempas…
Apa yang akan dirasakan? Sedih? Itu pasti. Namun, sekali lagi ini tentang mengolah rasa.
Bukankah dalam kesedihan kadang ada kebahagiaan yang kemurniannya lebih terjaga?
Cinta seperti apakah yang harus kita menangkan? Cinta kepada siapakah yang harus kita utamakan?
Allah, terima kasih atas cinta ini… sungguh cintaMU terasa dalam tiap detak jantungku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s