Menikah (Awas…sensitif!!!)


Kisah pertama

“sudah lebih dari dua puluh kali aku merasakannya.”
“lebih dari dua puluh kali mbak?” tanyaku dengan spontan.
“iya. Dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun ini telah lebih dari dua puluh kali.” Jawabnya dengan ringan seolah tanpa beban.
Wajah itu nampak tenang dan tegar. Tetap dengan senyum optimisme.
Ia tetap sumringah.
Memang sudah beberapa kali ia berkisah padaku tentang hal ini. Sejak pertama aku mengenalnya. Pertengahan 2007.
Banyak kisah dan pelajaran yang bisa kudapatkan. Sosok yang luar biasa.
Aku belajar banyak darinya.

Kisah kedua

“Zi, perjuanganku untuk menggenapkan separuh dien ini sungguh berat.” Ia bercerita padaku, setelah sekitar dua bulan pernikahannya.
Ia melanjutkan, “Seolah ingin menyerah. Mengkondisikan ibuku. Mengkondisikan kakakku. Aku bahkan pernah sangat emosional saat mendengar alasan-alasan mereka. Setiap diskusi, tak ketemu titik temu. Bahkan tak jarang kami sama-sama menangis, tetap buntu.”
“ibu anti tak sepakat ukh?”
“Ya, aku butuh waktu cukup lama. Banyak hal yang harus aku perjuangkan. Ada saja yang keluargaku minta. Aku ga habis pikir. Bahkan saat satu per satu aku ikuti kemauan keluargaku, tetap saja ada kurangnya di mata mereka. Saat itu aku udah hampir menyerah, Zi”

Ia menghela nafas sejenak. “Dari hati ke hati aku ngobrol lagi dengan ibu. Hingga akhirnya beliau mau menerima ikhwan itu. Alhamdulillah… ibuku akhirnya mau membuka hatinya.”
Ia mengakhiri ceritanya, dengan tersenyum..

Kisah Ketiga

“Aku ingin mendahulukan akhwat yang lain. Banyak yang usianya jauh di atasku.”
“Tapi ga boleh begitu juga mbak.” Aku sedikit memberi komentar, karena usia mbak ini sebenarnya sudah sangat matang untuk segera menikah.
“Iya, aku sudah diingatkan oleh beberapa orang karena statement-ku itu.”
“Lalu, mbak?”
“Aku kini sudah mulai membuka diri. Bahkan, aku pernah menembak ikhwan.” Membulat mataku mendengarnya.
Ia mengatakan dengan ringan, senyum ceria, tanpa beban.
“Oya? Subhanallah… Trus mbak?”
“ikhwannya malah takut.” Kali ini ia bercerita sambil tertawa kecil.
Entahlah, beliau serius atau tidak. Tapi kali itu aku belajar tentang sesuatu… ^_^

Kisah keempat

“aku sudah mantap zi. Insya Allah tak perlu istikhoroh. Kalau sudah mantap memang tak perlu istikhoroh, begitu kata ustadzahku. Aku juga tak perlu bertanya banyak tentang ikhwan ini. Informasi dari anti sudah cukup, ia ikhwan yang baik. Itu cukup bagiku.”
Lalu ia menambahkan, “Secara umum kita kan hampir sama dalam cara pandang, karakter, dan semacamnya. Jika memang menurut anti beliau ikhwan baik, aku mantap zi. Tak perlu banyak meragukan. Khawatir justru mengundang syetan untuk menghembuskan keraguan dalam hatiku.”
Itu yang pernah ia sampaikan padaku. Subhanallah… bagi sebagian orang mungkin berpikir tak sama dengan yang ia pikirkan.
Kok bisa semantep itu ya?
Tapi bagiku yang sangat mengenal akhwat ini, aku sangat faham bahwa kemantapan yang ia dapatkan adalah buah dari keimanannya. Buah dari keyakinannya pada Allah. Kini mereka telah dikaruniai seorang buah hati yang sangat cantik…

Kisah kelima

“Aku hanya punya dua kriteria, ikhwan sholih dan ngaji. Namun mungkin aku terlalu banyak keterbatasan sehingga banyak yang tak sanggup menerimaku.” Ia berkisah dengan senyum yang tetap merekah.
“mungkin mereka minder dengan Mba.”
“Minder? Aneh. Apa yang membuat minder? Mungkin, mereka memang sudah menutup diri untuk menerimaku. Karena begitu banyak keterbatasanku. Banyak kelemahan yang ada pada diriku ini.”
“Allah pasti tengah siapkan seseorang yang terbaik untuk anti, mba. Itu artinya mereka memang tak pantas untuk anti mba”
“Hehe… sampai sekarang aku masih menganggap mereka ikhwan yang baik kok. Hanya saja, mereka memang tak berjodoh denganku. Hehe…” ia tertawa lepas mengatakannya.

Kisah keenam

“Kadang aku menyesal. Dulu, saat ada ikhwan yang hadir, ia mau menerimaku apa adanya. Dengan segala keterbatasanku. Namun, aku tak memperjuangkannya di hadapan Bapak, saat Bapak mengatakan TIDAK. Padahal, dia ikhwan sholih. Harusnya aku tak diam saja saat Bapak tak sepakat. Padahal akhlaqnya tak diragukan. Pengorbanan dalam dakwah, semua pun mengakuinya. Mungkin ini yang dikatakan Allah, menolak ikhwan sholih akan terkena fitnah.”
“Jangan gitu ukh, ta do’ain semoga anti berjodoh dengan ikhwan itu. Masih ada kesempatan kok. Kali aja, ternyata tiba-tiba dapat biodata ikhwan itu lagi. Siapa tahu kan?” sergahku sambil tertawa.
Dan ia pun hanya tertawa dan mengatakan, “Terserah Allah saja. Lain kali memang butuh strategi berkomunikasi dengan Bapak. Jadi ga deadlock kayak kemarin.”
“jadi nyesel ni ceritanya?”selidikku sambil tersenyum
“Ga kok, hanya belajar dari pengalaman. Kalau terulang lagi kejadian seperti ini, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Karena setiap cita-cita besar itu harus diperjuangkan.”
Lalu kami tersenyum bersama…
***
Kata ustadz Fauzil , “betapa banyak masalah yang sebenarnya tidak perlu menjadi masalah kalau saja komunikasi bisa berjalan secara jujur, apa adanya, dan sedikit keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih baik. Sungguh, saya pun kadang bertanya-tanya, Tidak adakah jalan untuk komunikasi yang lebih baik? Kadang kita bersikap lebih ketat daripada syari’at, meski dalam perkara lain melonggarkan.”
Kadang memang kita tak cukup cerdas bersikap atas sebuah permasalahan. Banyak hal yang tak perlu dibesar-besarkan, namun kita buat seolah itu masalah besar. Itulah penyebab kekalahan kita.
Sesungguhnya ini tema yang sangat sensitif. Aku tertarik untuk menuliskannya sedikit. Setelah beberapa saat merenungi perbincanganku dengan beberapa orang tentang tema yang sama.
Aku memahami betul bahwa menyempurnakan agama adalah proses yang sangat besar dan berat. Dan di sana banyak pula orang akan mencurahkan segenap energinya. Kalau kata ustadz Cah, tak ada kesiapan yang 100%, jadi jangan nunggu siap 100%. Kadang memang berbicara masalah kesiapan, kita akan terjebak pada kata “siap”. Sudah siap belum? Ini bukan berarti kita menghilangkan kata kesiapan dalam proses menuju ibadah suci itu.
Ingat kisah Bu Ida Nur Laila, saat suami beliau (Pak Cah) dulu meminang, jangan bayangkan Pak Cah yang sekarang. Pak Cah dulu hanya seorang ikhwan yang memakai sandal jepit dan bahkan belum lulus. Kadang, kesediaan kita untuk menerima apa adanya, masih menjadi ujian besar dalam ibadah suci ini. Astaghfirullah…
Aku hanya ingin berbagi hikmah saja, dari beberapa pengalaman orang-orang luar biasa, yang berhasil memaknai setiap episode yang dilaluinya. Sedikit. Ya, sedikit saja.
Beberapa kali menjadi teman cerita dari orang-orang luar biasa ini, menjadikanku belajar untuk lebih dewasa.
Menikah. Bukan sesuatu yang mudah. Namun bukan pula sesuatu yang sulit. Ini hanya masalah keimanan. Yakin dengan taqdir Allah, bahwa itu adalah yang terbaik. Pun saat yang dinantikan tak kunjung datang, keimananlah yang membuatnya tetap tenang.
Satu lagi inspirasi dari ustadz Fauzil Adhim,
“Boleh jadi, hari ini banyak pengakuan semu dari manusia atas eksistensi kita. Tepuk tangan bergemuruh saat kita masih mempunyai sesuatu. Ketika sesuatu itu telah surut, tepuk tangan dan bahkan kesediaan untuk membalas salam pun bisa pergi tanpa jejak. Akan tetapi, ada manusia yang tulus menerima, apa adanya, ikhlas, tanpa pamrih.”
Memang tak mudah mendapatkan orang yang mau menerima kita apa adanya. Belajar dari seseorang, yang ternyata Allah telah ingatkan ia, bahwa kadang penolakan atas kekurangan orang lain itu bisa jadi bermula dari sebuah sifat yang bernama SOMBONG. Astaghfirullah…
Menyemangati beberapa orang yang tengah berikhtiar, yang tengah menanti, yang tengah kebingungan. Hehe…

Ini hanya sebuah ide menulis yang berserakan. Sebulan ini, membersamai seorang teman yang tengah berproses, meski jarak jauh, tapi aku bahagia bisa memberikan dukungan padanya, di tengah keresahannya berkomunikasi dengan keluarga. Tiba-tiba pagi ini ia mengirim sms, “Fiuh, setengah dien itu memang berat. Nanti ba’da dzuhur bisa kutelpon?” Sembari menunggu dzuhur datang,mencoba menulis apa yang ada di kepalaku. Do’aku, semoga Allah melapangkan jalanmu ukhti…

Advertisements

20 thoughts on “Menikah (Awas…sensitif!!!)

  1. Sudah kubaca mb…ditunggu share pengalaman pribadinya, hehe..
    Entahlah..menikah itu…
    Butuh kedewasaan, karena mengguncang Arsy tentu bukanlah hal yang sederhana… ^_^

  2. @greyrani : mba masih di jogja dek. sepertinya masih akan di jogja dalam rentang waktu cukup lama, kecuali Allah berkehendak lain 🙂
    Sedang mencoba mengetuk pintu rezekiNYA di sini…
    Ayo kesini, silaturrahimlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s