Lagi-lagi, adikku…


Beberapa hari ini, ada yang membajak FB-ku.
Pasang status : aku sayang adekku ;*
Ehm, ada yang bisa nebak, siapakah yang update statusku itu? Ya siapa lagi kalo bukan adikku satu-satunya itu. Aku yang termasuk jarang update status, apalagi status yang tak biasa seperti itu, langsung dapet reaksi dari beberapa orang di asrama, “wah mb uzi status Fbnya ga biasa…” Dan mereka ketawa2 aja pas tau itu pembajakan, seperti yang dulu pernah dilakukan juga oleh adikku.

Aku dan adikku…
Alhamdulillah, kami masih bisa bersenda gurau bersama, meski jarak usia kami terpaut jauh. Kadang, harus mencoba mengerti tu anak lagi kesambet apa ya, kalo tiba-tiba jadi sensitif dan bermuka masam (alhamdulillah sekarang udah jarang). Cuma kadang harus geleng2 ngeliat dia geje banget sama temen2nya. Anak muda jaman sekarang. Jauh bener sama masa mudaku dulu (merasa sok tua nih…).
Apapun itu, semoga adikku ini semakin sholihah…
Gregetan juga kadang kalo harus menasehati berulang-ulang untuk sebuah hal. But, memang harus berempati, udah beda zaman…
Dia berbeda dariku. Meski mungkin secara fisik banyak yang bilang mirip. Tulisan ini, hanya mengingatkan diriku sendiri, aku ingin menghargai adikku sebagai seorang pribadi yang sedang berkembang menjadi seseorang yang dewasa. Menjadi seseorang yang spesial. Menjadi pribadi unik yang berbeda. Mungkin memang terlalu banyak orang orang yang mengatakan kami mirip. Padahal kalo diperhatikan lebih seksama ya ga mirip2 banget. Pernah suatu ketika, saat adikku kelas 4 SD, aku kelas 3 SMA, pulang sekolah adikku bareng di angkot dengan seorang akhwat berseragam putih abu2, langsung aja tu akhwat nembak, “Adiknya mb Uzi ya dek?” adikku jelas bingung, ni mbak2 siapa si, sok kenal banget. Dengan tersenyum ia jawab, “Iya mbak.” Trus mereka ngobrol. “Salam buat mb Uzi ya.” Adikku lupa nanya nama tu akhwat. Tahunya pas ketemu di rumah, adikku membisikiku, “itu lho mbak, yang dulu aku pernah bareng di angkot yang nitip salam buat mb uzi”
Pernah juga, “Mbak, aku tadi bareng sama mbak2 di shelter, dia langsung bisa nebak aku adiknya mb Uzi lho. Katanya mbaknya dulu anak etos. Tadi udah kenalan, tapi aku lupa namanya.” Padahal ketemunya di shelter Malioboro. Wah, siapa akhwat tu yak…
Ada juga, pas adikku ada acara outbond lintas SMA di Jogja, baru-baru ini, pas ketemu adikku, katanya ada mbak2 yang bilang, ini siapa ya? Kayak pernah ketemu, adikku yang udah terbiasa ada orang bilang begitu, langsung aja terus terang, “saya adiknya mb Uzi.”
Pernah juga, aku ketemu sama ustadzahnya adikku di takziyah mb Nurul F Huda, saat kami salaman, ummi Habibah pun langsung menebak, kakaknya Fathiya ya? Itulah, kakak dan adik. Aku yakin, ini tak hanya terjadi antara aku dan adikku. Hampir setiap kakak beradik mungkin.
Meski memang tak semuanya. Buktinya, aku dan kakakku, kami sangat berbeda. Kalau jalan bareng, justru orang malah kaget kalo kami kakak beradik.
Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan, bahwa semirip apapun, sedekat apapun, seorang kakak dan adik, tetap dua pribadi yang berbeda.
Ya Rabb, jaga adikku, sayangilah ia, kuatkanlah ia…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s