Cerita Ramadhanku


Ramadhanku tahun ini begitu berbeda
aku harus menahan segenap rasa
namun justru, aku mendapatkan sesuatu yang istimewa

Masjid Nurul Islam...


Ini adalah Ramadhan ke-8 aku di Jogja. Ternyata udah lumayan lama juga ya?
Tahun-tahun awal, Ramadhanku hanya seputar di maskam (maklum, anak JS). Baru setelah sekitar empat tahun terakhir, mulai mengisi shaff di Masjid Mardliyyah, Masjid Syuhada, dan Masjid Nurul Ashri, tapi maskam tetap menjadi salah satu tempat favoritku.

my qur'an


Di tahun kedelapan ini, aku lebih banyak bergabung menjadi jama’ah Masjid Nurul Islam jakal. Bagaimana tidak, asrama etos berada tepat di utara masjid tersebut. Kos baruku pun di gang sebelah Nurul Islam. Hampir setiap sore, aku menjadi bagian dari jama’ah di masjid ini. Senang melihat seorang anak laki-laki kecil bernama Putra. Beneran, lucu banget ^_^ so cute…

Putra, si kecil yang tiap hari ikut berbuka di Nuris


Sempat, ada rasa yang muncul di awal2 tiap “nongkrong” di Nurul Islam. Ada ingatan yang muncul. Tapi justru, aku makin berazzam untuk keukeuh tak menghindar dari munculnya perasaan itu. Aku hanya ingin membiarkannya hingga pada akhirnya pergi dengan sendirinya. Awalnya biasa saja kalo ingat sesuatu itu, tapi justru nongkrongin tiap hari masjid ini, ingatan itu muncul lagi. Aku tahu, Allah sedang mengajarkanku tentang sesuatu. Ini menjadi salah satu pelajaran besar di Ramadhan tahun ini.
Edisi i’tikaf tahun ini, istimewa. Mulai tahun lalu, ku menemukan nuansa tersendiri dengan 10 hari terakhir. Meski sempat diuji dengan naiknya suhu tubuhku, tapi Alhamdulillah i’tikafku bertahan hingga hari terakhir. Sempat ke GMC tapi terlanjur tutup. Akhirnya tak jadi berobat.

masjid kampus


I’tikaf. Dapet banyak ilmu.
Bersyukur, dapet kenalan baru. Seorang ibu-ibu berusia lebih dari 60 tahun yang berasal dari Jakarta, dan memilih menyelesaikan i’tikaf di Jogja. Beliau seorang muallaf. Awalnya beliau mendekatiku dan mendengarkan tilawahku. Padahal aku pelan. Saat aku sedikit rehat, beliau menyapaku,
“Belajar baca qur’annya sejak kapan, Nak. Ibu belajarnya pas usia ibu 56 tahun.”
“Oh..Subhanallah Bu. Ibu hebat, saya ingin sesemangat ibu. Kalau saya, Alhamdulillah belajar qur’annya sejak kecil Bu. Itupun kayak gini hasilnya, belum bagus.”
“Siapa yang mengajari, Nak? Belajar di mana? Ibu senang mendengarnya.”
“Ayah saya yang mengajari. Sempat di madrasah dinniyah juga.”
Lalu cerita pun mengalir. Aku belajar banyak dari beliau. Sosok tangguh. Di tengah keluarga yang super beragam. Hindu, kristen, sekuler, banyak tekanan besar dalam hidupnya. Beliau punya Allah, kisah ini telah menginspirasiku.
Terima kasih Ibu…
Bertemu pula dengan seorang ibu dan kedua anaknya, berdomisili di Depok Jabar. Sekeluarga mudik ke Karanganyar. Namun memilih mudik lebih awal untuk menghabiskan 10 hari terakhirnya di maskam UGM.
Awalnya, aku ngobrol dengan seorang anak kecil yang membagikan amplop meminta sumbangan (tak tega rasanya menyebutnya pengemis). Aku mengobrol dengan anak kecil ini cukup lama. Bertanya tentang banyak hal. Aku menikmati obrolan kami. Aku coba ajak janjian adik kecil itu besok harinya “Ehm…ga janji ya mbak.” Baiklah… kupersilahkan ia pergi, dan akan kutunggu di hari selanjutnya. Dan ternyata ia benar-benar tidak muncul…
Selepas ngobrol dengan adik kecil itulah, ibu asal Depok itu tertarik untuk menyapaku (sayang seribu sayang, aku tak mengingat nama ibu ini. Astaghfirullah…menyesal sekali, padahal kami berhari2 berada di masjid yang sama, dan sempat bersampingan…).
“Tadi ngobrol apa dengan anak kecil itu dek?”
“Oh…banyak bu.”
“Dia siapa?”
“Anak jalanan Bu, tapi keluarganya ngontrak rumah juga di Jogja.”
“Ayahnya kerja apa?”
“Kata anak tadi jadi fotografer bu.”
Dan obrolan pun menjadi mengalir…pada akhirnya, aku justru yang bertanya banyak pada ibu itu. macam2 yang kutanyakan, kebetulan ibu itu alumni ekonomi UGM, sempat bahas pembangunan Pertamina Tower di kampus ekonomi juga, yang pembangunannya sangat nampak dari maskam lantai 2 itu. Siang malam tiada henti. Menjadi pemandangan yang cukup menarik, dengan suara2 bising di sepanjang hari.
Satu yang paling menarik dari obrolan kami : Pendidikan anak. So exited… Aku belajar dari ibu ini. How great! Langsung nambah deh referensinya. Planning-ku tentang pendidikan anak makin bertambah. Terima kasih ibu…
Yang ketiga…mahasiswi baru pascasarjana asal Lombok, makin menyemangatiku untuk keliling Indonesia, pengen jadi diver ni, ia bercerita tentang Gili-Gili di Lombok. Semoga Allah mengijabah harapan2ku.
Yang terakhir… syukurku memiliki orang tua seperti Bapak dan ummi.
Bapak tak pernah lupa untuk mengecek target2 ramadhanku. Dan kami selalu berkompetisi. Alhamdulillah, tahun ini seri, setelah tahun2 sebelumnya aku selalu kalah.
Ummi…sepanjang hari, di sela-sela aktivitasnya, Al-qur’an terus mengalun dari bibirnya. Magelang kaki Merbabu, jelas dingin. Namun itu tak menghalanginya untuk turut i’tikaf di masjid bersama Bapak.
Hingga akhirnya, kami menutup ramadhan tahun ini dengan saling mengucap harap, saling menguatkan, saling memaafkan, selalu dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.
Terlebih saat ummi mengucapkan sesuatu di hari terakhir ramadhan itu, “Ummi ingin meninggal dalam kondisi seperti ini. Ummi siap bertemu dengan Allah sekarang. BUkan ummi meminta meninggal, tapi ummi hanya ingin mengatakan ummi siap.” masih dengan pipi yang basah.
Aku pun sama, dalam tangisku, aku begitu takut amalku tak diterimaNYA, dosaku tak diampuniNYA…
Rabb, berkahilah kami…
Itu sekilas tentang Ramadhanku, yang di sela2 itu juga diselingi dengan aktivitas mengejar dosen dan ngendon di kampus.
Aku menemukan pelajaran-pelajaran baru, dari awal hingga akhir.
Meski di akhir Ramadhan harus kuterima dengan lapang tentang keputusan dosenku untuk memintaku restart lagi from chapter 1, berat…tapi nggak apa2.
Biar tambah pinter, kata ummiku di rumah (Terima kasih Um…).
Berarti makin banyak baca buku kan? AKu pun berbisik sendiri, “Nggak apa2, Zi. Nggak apa2!”
Sempat muncul wajah-wajah yang bahkan tak sanggup aku sampaikan kabar ini pada mereka. Orang-orang baik yang menyertai-ku. Sekali lagi, Allah sedang inginkanku lebih baik.
Akhir Ramadhanku, kututup dengan rencana-rencana besar yang dengan sepenuh hati, kumohon semoga Allah mengijabahnya…
Rencana-rencana besarku, tunggu aku tuk mewujudkanmu!
Aku bisa!!!
Ini ni suasana Ramadhan-ku…
Anak-anak pun turut beri’tikaf ^_^




Sebuah tempat favorit untuk Ramadhanku tahun ini ^_^

sebuah gang menuju "Cahaya Islam" --> Nurul Islam

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Ramadhanku

  1. wah, keren ada tempat favorit Ramadhan juga…
    klo tempat fav ramadhan Puji, dimana ya? apotek πŸ˜†

    astaghfirullah, di saat yang lainnya sibuk berada di masjid, puji justru sibuk ngendon di apotek

    like this mbak, menginspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s