Menanjak


Melangkah ke atas, Pasti!!! (Ini mottonya Glacial -pecinta alam SMAku- yang aku suka)

Melangkahnya kaki ini, bukan di jalan datar kawan. Ya, kakiku ini kulangkahkan di jalanan yang menanjak. Melangkah ke atas.

Tak hanya menanjak,  ia juga terjal.

Tak hanya menanjak,  ia juga berkelok.

Tak hanya menanjak, ia juga berbatu licin.

Tak hanya menanjak, ia juga bertebing jurang.

Semua ini tak harus kau tempuh karena ini pilihan, kawan.

Hanya untuk orang-orang yang mau saja.

Laa ikra ha fiddiin… (2:256)

Dan aku memilihnya.

Ada kalanya akan muncul batu yang mengincarmu dari atas.

Harus waspada dan hati2. Karena jika ia menimpa tubuhmu, kau akan berdarah-darah. Atau bahkan akan menyebabkanmu tak selamat.

Kadang, saat semangat2nya mendaki, bongkahan batu itu tanpa basa-basi berjalan dengan sangat cepat menujumu.

“Huaa…..” harus segera menyelamatkan diri.

Kadang akan kau rasakan kakimu lelah dan lemah, lalu memilih berhenti di tepian jalan. Jangan terlalu lama kawan, kau hanya perlu mengatur nafasmu sejenak lalu melangkah kembali.

Makin lama kau berhenti, langkah kakimu akan terasa makin berat untuk kau ayunkan kembali.

Ini sekedar menasehati diri tuk terus melangkah dan tak berhenti, meski bongkahan batu-batu itu bertubi-tubi mencoba menghalau kakiku.

Tak sengaja, pernah, aku sedikit lengah, dan aku salah mengambil langkah.

Ku pikir ini langkah yang cukup aman untukku, namun ternyata aku salah..

Bongkahan batu yang tiba-tiba berguling ke arahku ternyata begitu besar.

Untuk beberapa detik aku kaget, selanjutnya aku langsung melompat.

Ah…terlambat.. kaki kiriku dilindasnya

Darah segar pun mengalir

Aku meringis kesakitan

Air mataku ‘hampir’ menetes, namun aku segera menyadarinya

Ini ketidakhati-hatianku sendiri, tak perlu menangis

Meski ini sangat perih

Sekuat hatiku, aku tak boleh menangis

Lalu,

Marah dengan sang batu?

Benci dengan sang batu?

Merutuki sang batu?

Tidak, ini hanya sebuah konsekuensi logis atas pilihanku, bahwa aku memang harus bertemu dengan batu-batu ini dalam sepanjang perjalananku.

Karena aku ingin berada di puncak, suatu saat nanti.

Darah yang mengalir ini, biarlah menjadi saksi atas kesungguhanku.

Darah yang mengalir ini, biarlah menjadi penggugur dosa-dosaku.

Meski perih, aku tetap melangkah. Ke atas, Pasti!!!

Allah ghayatuna

Rasulullah qudwatuna

Al Qur’an dusturuna

Jihad sabiluna

Almautu fi sabilillah asma amanina…

Blunyahrejo, 26 Juni 2012

Advertisements

12 thoughts on “Menanjak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s