Berduet dengan si EMET…


Sebenarnya pernah posting jurnal di MP dengan judul yang sama. Tapi kali ini, aku tak sekedar berduet, aku berduet dan juga menjadi makin lengket dengan si emet…

Semoga dapat diambil ibrohnya…

Awalnya, saat aku beres-beres berkas yang kubawa pulang dari jogja, menyortir dan menata, ketemu selembar kertas, soal ujian ekonometeri 1 tahun 2008.

Soal ujian ekonometri

Aku tersenyum membacanya. Dulu, aku tak faham, mengerjakannya pun dengan ilmu ‘seadanya’, jika tak mau disebut ‘ngarang’ 🙂

Sekarang jadi mikir, ternyata lumayan ‘bisa dikerjakan’ lho, untuk tak disebut ‘gampang’ 🙂

Si emet adalah nama beken dari ekonometri, mungkin bekennya untuk anak ilmu ekonomi saja si.

Kini, aku makin lengket dengan si emet. Gimana ga lengket… aku ngambil mata kuliah emet1 (ekonometri 1) **** kali… (tak perlu disebutkan nominalnya, nanti kaget).

Dan ngambil emet2 (ekonometeri 2) juga lebih dari 1x. Alhamdulillah, nilainya lumayan… tapi jangan ditanya2 ya,  aku masih tak begitu faham. Bahkan saat aku tanya ke teman2 yang nilainya lebih tinggi, tak semua faham si emet ini… sungguh, si emet memang spesial sekali.

Aku mulai faham emet sejak ngerjain skripsi. Sedikit demi sedikit.

Aku jadi makin faham, ilmu yang tak diamalkan memang tak akan bermanfaat sama sekali. Jadi kalau ga utak atik data dan angka-angka dengan si emet ini, ya ga akan baik kefahamannya terhadap si emet.

Beneran… si emet benar2 telah mengaduk-aduk kepala dan hatiku. Sampai aku sering mensugesti diri, ‘aku cinta ekonometri’.

Dan ternyata, mencintai itu adalah sebuah proses yang musti ditumbuhkan… ya, seperti teori cinta ustadz anis matta. Mencintai itu kata kerja. Seperti teorinya ustadz Salim, cinta itu ditumbuhkan dan diciptakan, bukan datang tiba-tiba.

Prosesku menumbuhkan cinta pada emet sungguh panjang. Perlu diingat bahwa ia adalah kata kerja. Maka, lakukanlah cintamu pada apa yang ingin kau cintai…

Dan aku melakukannya untuk emet alias ekonometri. Berapa jenis buku emet yang kumiliki? 4 buku, kawan… Gujarati, Wooldridge, Agus Widarjono, Gunawan Sumodiningrat.  Ada kalanya aku lebih mengerti membaca ulasan Gujarati, kadang Wooldridge. Nah 2 buku yang lain buat penunjang aja, cari yang bahasa Indonesia, hehe..

Postingan ini intinya apa tho?

Pelajaran yang ingin saya bagi:

  1. Jangan pernah menyerah!!! Meski harus berdarah2, harus tetap berjuang!
  2. Jangan menyerah meski harus berkali2 ngulang matkul, meski dapat nilainya segitu2 aja, tapi tetap berusaha sampai faham.
  3. Yang akan dibalas oleh Allah adalah ikhtiar kita, bukan hasilnya. Balasannya adalah seberapa besar ikhtiar kita, seberapa kuat kita menahan tetes darah, tetes peluh, dan tetes air mata dalam menuntut ilmu :-). But, niatnya apa dulu…kalo niatnya cari nilai ya dapetnya nilai.
  4. Menuntut ilmu itu musti harus selalu lurusin niat… Lillahi ta’ala ^___^ Maka, anda akan mendapatkan mardhotillah.
  5. Berusahalah mencintai apapun yang ada di hadapan kita, seperti apapun kondisinya… seperti apapun tak menyenangkannya.

Jadi inget, pertama kali aku mengenal si emet adalah tahun 2008, di semester ke 5. Dan hingga kini, aku masih setia bersamanya… empat tahun, kawan 🙂

Kami makin lengket…

Senang dengan salah satu twit-nya mbak Helvy Tiana Rosa : Sering mhsw terbaik yg sy temukn bkn mrk yg tampak cerlang di dpn semua org, tp mrk yg terbuang&menyimpn bnyk kepedihn. #8GelasPuisi

Sangat menghibur… =p hehe…

Paling ga, meski aku sangat terlambat lulus, aku tetap lulus… Aamiin. insya Allah sebentar lagi.

Bersyukur mengalami banyak pelajaran, terutama saat aku memasuki semester 9. Justru dari situ, aku mulai mendapatkan banyak ilmu.

Dan aku bersyukur, aku masih di sini… Ramadhanku kali ini, insya Allah ramadhan terakhirku dengan status mahasiswa.

*kali ini, postingan ini rasanya tak begitu penting. Just wanna share…

*jadi ingat kakak tingkatku yang lulus terlambat dari teman2nya, mereka terlambat lulus bukan karena tak mau lulus cepat. Dan skripsi mereka, bukanlah skripsi yang asal lulus…

*jadi ingat sms seorang teman, “saya kalau mau lulus tahun2 kemarin juga bisa zi, tapi saya memilih yang lain, karena ada sesuatu hal yang jauh lebih penting dari itu.” Sekarang dia dah mau wisuda…  Selamat…Selamat… Saya akan segera menyusul ^___^ Mohon do’a dari para pembaca (semoga ada) =p

*kutulis di hari pertama Ramadhan, di kampus FEB, sepi… sambil mencari inspirasi.

*selamat ber-Ramadhan…barakallahulakum…

Advertisements

2 thoughts on “Berduet dengan si EMET…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s