Kabar Duka Bulan Syawal


*maaf, ini judulnya kabar duka, tapi isinya campur2… 🙂

Tak seperti hari-hari biasa, dhuha itu langit desaku tampak mendung. Langit biru tak menghiasi pagi itu. Titik-titik gerimis sempat turun meski sangat tipis, sangat tipis gerimis hari ini karena masih musim kemarau. Mendung ini mengiringi kabar duka yang kuterima.

Ia duduk terdiam di kursi tengah.

“Bapak sayah njih?”1)

Bapak hanya menggeleng pelan. Tak biasanya Bapak menjawab dengan gelengan kepala. Wah, ada apa ya?

“Bapak sedih ya?” tanyaku.

“Bapak justru malah mikirin njenengan2). Uzi sedih, nak?” balas beliau dengan lembut.

Aku pun langsung tersenyum dengan begitu lebar… “Lihat, apakah ada gurat kesedihan di wajah ini?” tanyaku sembari menunjukkan wajahku dengan nada agak bercanda. Bapak pun tersenyum.

“Haha… biasa aja, Bapak. Ehm, laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Kalau dah gitu, enak kan Pak? Memang ada sedih. Tapi husnudzan sama Allah. Muhassabah juga, mungkin uzi ada khilaf sehingga Allah memberikan ujian ini. Udah Bapak, ga usah dipikirin. Insya Allah ada gantinya yang lebih baik nanti. Dan yakin saja, dari awal kan niatnya untuk Allah, meski hasilnya ga seperti yang diharapkan, Allah pasti tetap memberikan balasan kok, semoga bernilai pahala atas semua yang sudah diikhtiarkan ini.”

Aku memang melihat guratan sedih itu tak begitu saja hilang dari wajah Bapak. Tapi tak apalah, wajar saja. Meski aku tahu, yang membuat sedih beliau sebenarnya justru karena terlalu besar sayangnya padaku, yang membuat beliau sedih adalah kekhawatiran terhadapku atas duka yang menimpaku ini.

Setelah kuyakinkan Bapak, aku baik-baik saja, beliau pun memberikan closing statement yang sangat menenangkan (so sweet) kemudian beranjak mengambil air wudlu dan mendirikan sholat dhuha.

Kudatangi ummi di dapur, langsung kuambil pisau (eits, bukan mau ngapa2in lho…..).

“ummi udah sholat belum? Sholat dulu aja, ta masakin. Jangan lupa do’ain uzi ya…” selorohku sambil tersenyum ^__^

Selepas sholat, ummi ke dapur lagi, Ummi memulai pembicaraan tentang kabar dukaku. Obrolan pun menjadi produktif karena membicarakan rencana-rencanaku ke depan. Karena rencanaku yang awalnya akan tetap di Jogja pascalulus ini sepertinya akan sedikit berubah. Wallahu a’lam. Sekarang dah jadi pengangguran ceritanya. Harus belajar lebih realistis menghadapi kehidupan ini… “Allah-lah yang kuasa. Kita wilayahnya berikhtiar.”

Ya, rencanaku untuk tetap di Jogja sepertinya harus di-arrange ulang. Sedih memang, tapi tetap bersyukur karena Allah tengah mengajarkan sesuatu untukku.

Aku sayaaaaang banget sama Bapak dan Ummi. Berat sebenarnya saat harus kukabarkan berita duka itu. Tapi ya memang harus kukabarkan. Aku mengabarkannya dengan bahasaku yang santai dan dengan senyum ceria, eh tetep aja pada khawatir padaku gitu… ujung2nya nasehat mereka padaku buanyaaak banget dan sangat menenangkan.

Aku nerima sms kabar duka itu juga udah aneh sih, kalimat pertama sms-nya masa’ pake “kabar duka”. Wah, yang sms aku musti tanggung jawab tuh, aku jadi berduka betulan.

Yah… sedih sesaat, tapi gpp. Artinya, aku musti berikhtiar lagi, musti berjuang lagi. Menyesal karena sudah terlanjur melepas beberapa kesempatan lain? Oh…tidak. karena itu pilihan sadar. Dan aku benar2 sadar telah memilihnya. Sayang, pilihanku ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Memang tak berjodoh. Tapi yang patah hati ga cuma aku kok, yang lain juga pada sedih gara2 ‘proyek’ ini dicancel.

*hayo…pasti pada mikir jodoh ya???

Tenang-tenang…aku sedang membicarakan yang lain. Bukan tentang jodoh. Bukan… bukan… tapi tentang seorang ikhwan. Eits, malah makin ngelantur… Astaghfirullah… bukan…bukan… ini tentang rejeki. Ya, tentang pintu rejeki yang ternyata belum rejeki-ku. Ya sudah, cari pintu yang lain… Ayo…ayo…semangat menjemput rejeki yang berkah. Keberkahan Allah-lah yang dicari. Bukan semata2 rejeki. Oke…oke…

Tenang Bapak, Ummi, aku akan berikhtiar lagi, terus berikhtiar dengan seluruh kemampuan, sebagai pelaksanaan marotibul amal (nah loh, bukan marotibul amal kedua loh, tapi irsyadul mujtama’ karena di tahapan ini, dibutuhkan dakwah mihani dan faniy, kalo marotibul amal kedua belum bisa, sementara nyicil yang ketiga, keempat, dst dulu gpp ^___^)

Bapak dan ummi perhatian banget. Penuh kasih dan sayang. Jadi ingat, saat aku menitipkan tanaman2 depan rumah untuk selalu dirawat. Mereka sangat serius merawat tanaman itu untukku. Hehe… hobby gardeningku belum tak lanjutin lagi nih. Iya si tiap pulang, aku selalu mengagendakan bercengkerama dengan tanaman2 itu (minimal menyiram). Nah, karena sementara masih pengangguran, kayaknya bakal sering di rumah. Kan kulanjutkan merawat tanaman-tanamanku. Sudah saatnya menambah penghuni taman. Terima kasih bapak, terima kasih ummi telah merawat mereka untukku.

tamanku yang masih sangat minimalis

Aku sayaaaaaaaang banget!

*masih belajar menulis. Ternyata menulis di WP tetap aja beda rasanya dengan di MP. Anggap saja tulisan2ku ini seperti pelajaran menulis, namanya juga belajar 😀

Keterangan:

1) Bapak capek ya?

2) kamu

Advertisements

6 thoughts on “Kabar Duka Bulan Syawal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s