Belajar dari Julaibib


Tak banyak orang yang mengenalnya… namun kontribusinya utk dakwah luar biasa.
Dia sahabat yang tak dikenal di kalangan manusia, namun ia menjadi kebanggaan Allah dan RasulNya…Semoga menjadi cerminan untuk kita semua.

Siapakah Julaibib ini?

Namanya Julaibib. Siapakah ayah Julaibib ini? Siapa nasabnya?

Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak diketahui pula, termasuk suku apakah dia.

Secara penampilan, menurut beberapa literatur yang saya baca, tubuhnya kecil dan memiliki rupa yang tidak begitu menarik. Dia berkulit hitam, pendek, bungkuk. Pakaiannya lusuh. Ia adalah lelaki miskin. Banyak dari para sahabat yang tak menaruh perhatian padanya. Sekali lagi, ia adalah sahabat yang tak dikenal namun Allah dan RasulNya terpesona padanya. ia adalah sahabat yang senantiasa berdzikir, ia berada di barisan pertempuran-pertempuran.

Ia menemui syahid pada sebuah pertempuran. Di akhir pertempuran tersebut, Rasulullah bertanya pada para sahabat, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Serempak para sahabat menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Beliau mengulang pertanyaan tersebut hingga tiga kali dan mendapatkan jawaban yang sama. Kemudian beliau menarik nafas dalam-dalam, dan mengatakan, “namun aku kehilangan Julaibib.” [jleb!!!] Julaibib ditemukan dengan berlumuran darah dengan 16 luka di bagian depan tubuhnya, di tengah tujuh orang musuh. Rasulullah berkata, “Ya Allah, dia bagian dari diriku dan aku bagian dari dirinya.” Persaksian tersebut beliau ucapkan hingga tiga kali. Apa artinya? Kalau Nabi mengulang sesuatu itu teramat penting dan sangat besar dalam pandangan beliau. Setelah itu, beliau angkat dengan tangannya sendiri serta beliau mengkafani jenazah Julaibib, lalu digalikannya liang kubur. Sungguh alangkah mulia dan beruntungnya Julaibib, yang mengangkat tubuhnya adalah kedua tangan manusia yang paling mulia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian meletakkan sahabatnya itu di liang kubur, tanpa dimandikan terlebih dahulu (HR Ahmad).

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Merenunglah kita semua…..

Sahabatku, marilah bercermin dari seorang Julaibib. Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya.

Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya. Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak!

Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Ya, seperti apapun kita jadilah hamba yang terbaik di hadapan Allah, mempersembahkan amal-amal terbaik kita untukNYA, jagalah keikhlasan saat tak ada manusia yang menilai kita, karena pada hakikatnya kita mencari nilai di hadapan Allah.

#ikhlas Seperti apapun kita, jangan sekali-kali kita tak bersyukur…

#syukur Seperti apapun kita, jadilah yang terdepan dalam tiap shaff kebaikan…

#mujahadah Mari belajar dari Julaibib, betapa Allah dan Rasulullah bangga padanya. Sementara dia bukan siapa-siapa di mata sahabat yang lain.

“Ya Allah, dia bagian dari diriku dan aku bagian dari dirinya” Ini adalah kalimat yang luar biasa, betapa Allah dan RasulNYA mencintai Julaibib…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s