Kapal ini mulai berlayar

Sebagian orang menganggap pernikahan adalah akhir dari perjalanan, bahwa hati telah berlabuh…

Bagi sebagian yang lain, pernikahan adalah titik awal sebuah kapal meninggalkan dermaga untuk berlayar mengarungi luasnya samudera…

Bagiku, pernikahan adalah sebuah awal…

Menikah itu berat kah?

“Iya,” begitu aku menjawabnya

Menikah itu banyak masalah?

“Iya,” jawabku lagi

Apakah kau tak bahagia?

“Tidak, aku bahagia,” jawabku mantap…

Ya, menikah memang berat dan lebih banyak masalah. Tapi, menikah insya Allah membuat lebih bahagia..

Kenapa berat? Karena menikah adalah separuh dari agama. Jadi wajar Allah akan memberikan beban lebih.

Banyak hal yang harus disiapkan untuk dapat menjalankan peran baru sebagai istri atau suami.

Persiapan ruhiyah, jasadiyah, fikriyah maupun maaliyah. Sebelum menikah semua rasanya sangat teoritis dan tak begitu penting. Semua biasa saja. Akan tetapi, setelah menikah baru terasa betapa sangat penting masing2 aspek itu berperan untuk mencapai pernikahan yang barakah.

Ruhiyah… Jelas karena menikah adalah ibadah. Bagaimana kondisi hati kita menjadi lebih dekat dengan Allah dengan menikah. Bagaimana kita menjaga ruhiyah kita, untuk senantiasa menuju Allah.

Jasadiyah… Setelah menikah, tentu lebih banyak aktivitas baru sehingga memungkinkan fisik menjadi lebih lelah. Suami yang menjadi kepala keluarga dan istri yang bertanggung jawab menjadi kepala rumah tangga, serta persiapan2 jasadiyah yang lainnya, agar tetap sehat dan bugar.

Fikriyah… Serius. Ini penting banget. Bagaimana mengetahui peran masing2 seperti yang disyariatkan. Apa saja yang menjadi hak dan kewajiban masing2, termasuk belajar tentang psikologi suami istri. Banyak ketidaktahuan tentang pernak pernik kehidupan pernikahan, akan melahirkan masalah2 kecil yang mungkin akan menghambat menuju keberkahan. Banyak baca buku tentang munakahat, awalnya memang rasanya kok textbook banget, tapi ternyata menjadi sangat penting setelah menjalaninya… Baca2 lagi buku2 munakahat! 🙂

Maaliyah… Ini juga tidak kalah penting dengan yang lain. Kebutuhan setelah menikah tentu lebih besar dibanding sebelum menikah. Jadi, harus siap. Paling tidak kita harus siap prihatin lah.. Hehe…

Sekelumit tulisan ini memang sangat singkat, tapi semoga bermanfaat…

Menikah itu indah?

“Iya,” begitu aku menjawabnya

Apa kau lebih bahagia?

“Iya,” jawabku lagi

Semoga Barakah

Semoga Barakah, 14 Desember 2013

Tengah hari 11 Februari 2014, 3 bulan setelah pertemuan pertamaku dengan seseorang yang kini menjadi suamiku..

Advertisements

Barakallah… ^_^

Akhirnya…
Lega aku mendengar akad itu telah terucap (tenang…tenang…ini bukan akad-ku).
Sahabatku, saudaraku… Air mata ini menetes untukmu. Akhirnya… setelah perjuangan panjang yang kau jalani, hari ini menjadi jawaban atas itu semua. Terjawab sudah…
Aku masih ingat saat-saat itu, di mana engkau menyampaikan awal prosesmu. Meski aku belum menikah, tapi kayaknya aku punya banyak jawaban atas pertanyaan2mu, hehe… Setelah itu, menjadi rutin kau menghubungiku. Aku bahagia bisa membersamaimu ukhti…
Satu demi satu ujian kau harus lewati. Perjuanganmu menaklukkan hati orang tuamu dan orang tua si ikhwan. Aku tersenyum mengingatnya… Ingat sms-smsmu, ingat perbincangan-perbincangan kita di telpon. Semua akhirnya terlewati dengan baik, ukh… Subhanallah…
Sekarang tinggal tersisa senyumnya kan? Padahal pas menjalani pakai nangis-nangis juga. Pake stress juga. Bingung-bingung juga. (berlebihan ga ya?)
Hari ini, saat akad itu terucap… Hati ini merasakan ketenangan ukhti… kelegaan…
Dan aku menangis bahagia untukmu…
^_^
10 Nopember 2011, di sela sakitku (alhamdulillah…pulang ke Magelang dapet energi baru, tambah semangat lagi…. semangat sehat)

Menikah (Awas…sensitif!!!)

Kisah pertama

“sudah lebih dari dua puluh kali aku merasakannya.”
“lebih dari dua puluh kali mbak?” tanyaku dengan spontan.
“iya. Dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun ini telah lebih dari dua puluh kali.” Jawabnya dengan ringan seolah tanpa beban.
Wajah itu nampak tenang dan tegar. Tetap dengan senyum optimisme.
Ia tetap sumringah.
Memang sudah beberapa kali ia berkisah padaku tentang hal ini. Sejak pertama aku mengenalnya. Pertengahan 2007.
Banyak kisah dan pelajaran yang bisa kudapatkan. Sosok yang luar biasa.
Aku belajar banyak darinya.

Kisah kedua

“Zi, perjuanganku untuk menggenapkan separuh dien ini sungguh berat.” Ia bercerita padaku, setelah sekitar dua bulan pernikahannya.
Ia melanjutkan, “Seolah ingin menyerah. Mengkondisikan ibuku. Mengkondisikan kakakku. Aku bahkan pernah sangat emosional saat mendengar alasan-alasan mereka. Setiap diskusi, tak ketemu titik temu. Bahkan tak jarang kami sama-sama menangis, tetap buntu.”
“ibu anti tak sepakat ukh?”
“Ya, aku butuh waktu cukup lama. Banyak hal yang harus aku perjuangkan. Ada saja yang keluargaku minta. Aku ga habis pikir. Bahkan saat satu per satu aku ikuti kemauan keluargaku, tetap saja ada kurangnya di mata mereka. Saat itu aku udah hampir menyerah, Zi”

Ia menghela nafas sejenak. “Dari hati ke hati aku ngobrol lagi dengan ibu. Hingga akhirnya beliau mau menerima ikhwan itu. Alhamdulillah… ibuku akhirnya mau membuka hatinya.”
Ia mengakhiri ceritanya, dengan tersenyum..

Kisah Ketiga

“Aku ingin mendahulukan akhwat yang lain. Banyak yang usianya jauh di atasku.”
“Tapi ga boleh begitu juga mbak.” Aku sedikit memberi komentar, karena usia mbak ini sebenarnya sudah sangat matang untuk segera menikah.
“Iya, aku sudah diingatkan oleh beberapa orang karena statement-ku itu.”
“Lalu, mbak?”
“Aku kini sudah mulai membuka diri. Bahkan, aku pernah menembak ikhwan.” Membulat mataku mendengarnya.
Ia mengatakan dengan ringan, senyum ceria, tanpa beban.
“Oya? Subhanallah… Trus mbak?”
“ikhwannya malah takut.” Kali ini ia bercerita sambil tertawa kecil.
Entahlah, beliau serius atau tidak. Tapi kali itu aku belajar tentang sesuatu… ^_^

Kisah keempat

“aku sudah mantap zi. Insya Allah tak perlu istikhoroh. Kalau sudah mantap memang tak perlu istikhoroh, begitu kata ustadzahku. Aku juga tak perlu bertanya banyak tentang ikhwan ini. Informasi dari anti sudah cukup, ia ikhwan yang baik. Itu cukup bagiku.”
Lalu ia menambahkan, “Secara umum kita kan hampir sama dalam cara pandang, karakter, dan semacamnya. Jika memang menurut anti beliau ikhwan baik, aku mantap zi. Tak perlu banyak meragukan. Khawatir justru mengundang syetan untuk menghembuskan keraguan dalam hatiku.”
Itu yang pernah ia sampaikan padaku. Subhanallah… bagi sebagian orang mungkin berpikir tak sama dengan yang ia pikirkan.
Kok bisa semantep itu ya?
Tapi bagiku yang sangat mengenal akhwat ini, aku sangat faham bahwa kemantapan yang ia dapatkan adalah buah dari keimanannya. Buah dari keyakinannya pada Allah. Kini mereka telah dikaruniai seorang buah hati yang sangat cantik…
Continue reading